30 September 2008

Pengalaman Nonton Laskar Pelangi The Movie

Kemarin (Senin, 29 Sept 2008) aku coba jalan ke Bioskop dengan harapan agar dapat tiket biar bisa nonton salah satu Film yang paling Fenomenal ditahun ini, yaitu Laskar Pelangi. Tidak tahu kenapa aku begitu bersemangat untuk bisa menonton film ini, mungkin karena rasa penasaran juga, setelah beberapa waktu yang lalu tau kisahnya melalui acara Kick Andy di Metro TV.

Jujur saja, awalnya aku tidak tau apa-apa tentang Novel Laskar Pelangi ini. Karena aku pikir novel ini ga akan jauh beda dengan novel-novel yang banyak beredar di pasaran. Tapi ternyata dugaan ini salah, karena ternyata novel ini merupakan kisah nyata kehidupan sang penulis dan beberapa teman-temannya di daerah Belitong (Dulu termasuk Provinsi Sumatera Selatan, sekarang jadi Provinsi Bangka Belitung).

Pada waktu menonton acara Kick Andy edisi Laskar Pelangi tersebut aku sempat terharu mendengar cerita si Penulis Novel tentang kehidupan masa lalunya ketika masih di bangku sekolah dasar. Banyak hal yang dapat kita pelajari dan dapat kita contoh dari kehidupan mereka tersebut.

Ada salah satu tokoh pada Novel dan Film tersebut yang menurut aku sangat bagus semangat hidupnya dan sangat memiliki kemauan untuk sukses dan maju, juga terdapat semangat pantang menyerah terhadap keadaan, dia adalah Lintang. Hanya sayang, dia terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolahnya disebabkan dia menjadi anak lelaki tertua yang harus bisa menghidupi adik-adiknya, karena ayahnya meninggal ketika sedang melaut dan tidak kembali lagi.

Kemudian ada Ibu Muslimah, seorang guru di daerah ini yang dengan penuh semangat mendedikasikan hidupnya untuk mengajar anak-anak miskin didaerah pesisir. Ibu Muslimah begitu yakin bahwa dia dapat mengajar dan mendidik anak-anak miskin daerah pesisir. Dia bekerja tanpa pamrih, bahkan dalam film diceritakan bahwa Ibu Muslimah sempat tidak menerima gajinya selama dua bulan, tetapi dia tetap semangat untuk mengajar dan tetap datang ke sekolahnya. Dia menutupi biaya hidupnya dari pesanan menjahit pakaian orang-orang. Subhanallah ...
Masihkan ada semangat seperti ini didaerah seperti Jakarta?

Ada juga beberapa kejadian-kejadian lucu yang digambarkan pada Film tersebut, seperti adegan ketika si Mahar diberi amanah untuk memimpin teman-temannya untuk mengikuti lomba karnaval antar sekolah. Lalu ada si Ikal yang tiba-tiba rajin dan mengajukan diri untuk selalu dapat membeli kapur untuk sekolahnya, disebabkan pada pengalaman pertamanya membeli kapur dia terpesona oleh kelembutan jemari anak pemilik toko, yaitu Ai Ling gadis kecil keturunan Tionghoa. Tapi sayang Ai Ling kemudian pergi ke Jakarta ikut merantau bersama saudaranya.

Kesan yang dapat aku tangkap dari menonton Film ini adalah nyata, mengharukan, menggugah semangat hidup kita untuk dapat tetap berjuang mengejar mimpi kita untuk dapat diwujudkan menjadi nyata.

Salut buat Andrea Hirata Penulis Laskar Pelangi.

Hari ini aku udah beli Novelnya lagi yaitu Sang Pemimpi, ketika jalan-jalan ke toko buku Gramedia. Novel ini merupakan bagian dari Tetralogi yang dibuat oleh Andrea Hirata. Wah bahaya nih kalo keterusan jadi baca novel terus, hahahaaa ...

Ini tiketnya


No comments:

Post a Comment