01 September 2008

Ibu Tidak Bekerja Tidak Jamin Anak Bebas Narkoba


Creating A Drug-Free World
By: Veronica Colondam








IBU Widya menjerit histeris dan tangisnya pecah di suatu sore. Kartika, anak perempuan satu-satunya mengaku terjerat narkoba. Ayah Kartika pun dalam diam seribu bahasa secara refleks mengepalkan tangannya. Tangan ayah dilayangkan ke udara. Kartika pun hanya bisa terpejam pasrah menunggu nasib. Namun, kepalan ayah mendarat di atas meja kayu kokoh di ruang makan. Kartika tesentak keras dengan bunyi gebrakan itu.

Meskipun berhasil menahan diri tidak melukai si putri kesayangannya, ayah tetap tidak tahu apa yang harus dia lakukan atau katakan. Terlalu banyak pikiran berkecamuk. Terlalu banyak perasaan. Terlalu sesak dada ayah dalam kekesalan yang membuncah dalam detik itu. Tidak tertahankan, sangat kompleks dan tidak dapat diungkapkan.

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Ibu Widya. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Apa salah saya, Tuhan, sehingga ditimpa kemalangan ini? Bukankah dulu saya memutuskan berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga untuk bisa mengasuh anak-anak secara lebih intens? Waduh, jangan-jangan banyak pembantu yang selama ini saya pecat karena saya tuduh mencuri sebenarnya tidak mencuri. Bisa jadi itu perbuatan Kartika semua? Oh tidaaak! Saya bukan hanya membesarkan pecandu, melainkan juga seorang kriminal!

Perasaan sayang, benci, kasihan, dan keinginan untuk menyakiti anak sendiri datang serentak. Tapi hanya keheningan yang dihasilkan ayah. Kata-kata tidak lagi cukup untuk mengungkapkan rasa. Bahasa gagal mengartikulasi kehendak.
Kartika pun melirih sambil bersimpuh di hadapan ayah dan ibunya, terisak sambil tiada henti memohon pengampunan dari Tuhan dan orang tuanya. Dalam keheningan ayah ibunya, Kartika merasa lebih tersiksa.
Kartika tahu bahwa dalam diam, dia telah amat menyakitkan hati bahkan menghancurkan hidup orang tuanya. Apa yang telah kuperbuat Tuhan? Mengapa kenikmatan itu berujung nestapa? Kalau saja saya tahu…..

“Karier” narkoba

Kisah Kartika itu ternyata banyak kemiripan dengan apa yang digali pada lebih dari 670 pecandu narkoba di 14 panti rehabilitasi di Pulau Jawa. Dari penelitian ini diketahui bahwa 74% dari pecandu mengakui memiliki ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga, sama seperti ibu Kartika. Dan berasal dari rumah yang “utuh”.

Pada penelitian tersebut, didapati 98% pecandu adalah perokok dan merokok terlebih dahulu baru mencoba ganja, sebelum meningkat ke pil-pil amfetamin. Dan 70% dari mereka berakhir dengan narkoba suntik seperti sabu dan putau. Rata-rata pecandu memulai kebiasaan merokok mulai di bangku SMP (atau akhir SD) dan bergulir dalam 'karier narkoba' sampai masuk SMU.

Seperti Kartika, teman merupakan faktor pendorong, walaupun ia juga mengakui bahwa dia memang sengaja mencari kelompok teman tertentu yang cenderung mendukung pemenuhan rasa penasarannya, rasa ingin tahunya yang besar terhadap rokok, pil, dan putau.

Kelompok itulah yang menjadi kelompok 'sosial pendukung' yang memfasilitasi pemuasan keingintahuan Kartika. Inilah peran peer-approval dalam pergaulan, melebihi peer pressure seperti apa yang dipercayai banyak orang tua.

Pengaruh peer-approval akan jauh lebih dahsyat jika di diri anak pada dasarnya sudah terdapat faktor internal dalam diri anak yang menggiring terbentuknya niat dasar pada anak untuk (misalnya) bereksperimen dengan rokok atau narkoba.
Memang, musuh terbesar kita adalah keingingan kita sendiri!

Ada, tapi Tidak Ada…

Pertanyaannya, ke mana orang tua selama anak ‘berkarier’ dalam narkoba? Mengapa hal ini bisa terjadi selama bertahun-tahun dan terlepas dari pengamatan orang tua? “Ibu rumah tangga” yang seharusnya ada di rumah ternyata malah tidak berhasil memantau kegiatan anak. Apa yang terjadi? Fenomena apa yang dihadapi masyarakat kini? Apakah ini yang namanya kurang perhatian, kurang komunikasi?

Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Pertama, pada waktu seorang anak memulai ‘karier narkoba’, ia tidak menampakkan perubahan fisik yang berarti jika belum sampai ke tahap kecanduan. Kedua, Ibu yang tidak bekerja bisa saja berada secara fisik di rumah, tapi sering ‘tidak hadir’ dalam kehidupan anak. Ketiga, perhatian yang diberikan orang tua bisa jadi tidak tepat sasaran.

Mengapa tidak tepat sasaran? Ini terjadi karena perbedaan persepsi dan kesenjangan harapan antara anak dan orang tua. Sering kali perhatian orang tua diarahkan pada prestasi, sementara anak berteriak untuk diperhatikan dalam urusan pergaulannya, urusan pacar. Belum lagi, kita sebagai orang tua sering lupa bahwa berkomunikasi itu tidak hanya berbicara, tapi ada elemen mendengar; perlu pakai pendekatan hati dan bukan nalar semata.
Berdasarkan Survei Faktor Risiko (YCAB, 2002), 78% remaja di Jakarta mengakui mereka biasanya curhat ke teman dan bukan orang tua. Ini adalah kenyataan yang menyedihkan. Tapi untuk dapat merebut hak curhat ini, rasanya orang tua perlu mengenal anak lebih baik sebagai langkah awal membuka jalur komunikasi yang diinginkan.

Kenali anak anda supaya anda tidak menjadi orang yang terakhir tahu jika anak anda terkena masalah.

Sumber:http://www.kickandy.com/index.php?ar_id=MTEzOQ==

No comments:

Post a Comment