28 March 2008

Angkutan Umum dan Penumpangnya

Kalau mengingat judul diatas yang pertama yang saya ingat dari itu adalah ketidaknyaman dan kesemrawutan. Mengapa demikian?

Mari kita lihat saja kondisi yang ada pada hampir seluruh angkutan umum yang ada di Ibukota Republik ini seperti Bis Kota, Metro Mini, Angkot, dan lainnya. Yang saya lihat tidak ada satupun dari angkutan umum tersebut yang bisa dikatakan nyaman, bahkan mungkin banyak dari mereka mungkin bisa kita katakan sebagai salah satu biang kerok kesemrawutan jalan di Jakarta.

Memang benar bahwa angkutan umum bukan hanya satu-satunya penyebab kesemrawutan dan kemacetan jalan di Jakarta ini, tetapi menurut saya angkutan umum merupakan penyumbang besar kemacetan di Jakarta. Contoh-contohnya bisa saya sebutkan diantaranya di wilayah Jakarta Timur seperti di pertigaan Terminal Pulo Gadung, yang saya tau dan saya ingat serta saya alami kemacetan di pertigaan ini sudah berlangsung lama sekali. Bahkan ketika waktu saya masih menjadi pelajar SMP, pertigaan ini selalu saja mengalami kemacetan yang disebabkan oleh banyaknya angkutan umum seperti Angkot, metro mini, dan juga Bis antar kota antar provinsi yang dengan seenaknnya saja berhenti menunggu penumpangnya persis di depan pertigaan tersebut. Dengan dalih mencari makan dan kejar setoran, mereka merasa sah-sah saja untuk berhenti mencari dan menunggu penumpangnya di sembarang tempat yang mereka nilai potensial untuk melakukannya. Padahal dalam hal terminal Pulo Gadung, semua dari kita sebagai orang Jakarta sudah mengetahui bahwa terminal Pulo Gadung hingga saat ini masih merupakan salah satu terminal terbesar dan terpadat yang ada di Indonesia.

Lalu pertanyaan timbul mengapa mereka (angkutan umum) tidak mencari dan menunggu penumpangnya di terminal saja? Mengapa mereka lebih menyukai menunggu (ngetem) penumpangnya di luar terminal yang jelas-jelas akan membuat kemacetan di jalan?

Belum selesai masalah tersebut terjawab, masih ada lagi satu masalah yang terkait dengan hal tadi, yaitu masalah kedisiplinan para penumpangnya. Logikanya adalah angkutan umum tidak akan mencari dan menunggu (ngetem) sembarangan penumpangnya kalau saja penumpang tidak pernah ada di depan pertigaan tersebut.

Lalu siapa dari keduanya yang salah?

Kalau menurut saya keduanya sama-sama memiliki kesalahan dan andil dalam timbulnya kemacetan yang terjadi di lokasi tersebut. Saya sendiri sebagai salah satu pengguna angkutan umum diwilayah ini sudah sangat bosan dan muak jika melewati tempat ini. Dan saya hampir tidak pernah menunggu angkutan umum di luar terminal Pulo Gadung.

Mudah=mudahan saja setiap orang mau mencoba untuk berdisiplin mulai dari dirinya sendiri. Karena kalau setiap orang dapat berpikiran seperti itu, maka akan banyak manfaatnya, terutama buat diri sendiri dan orang lain.

Udah dulu deh, pusing juga mikirnya :)





No comments:

Post a Comment