21 November 2009
Operator 3G dan Wimax Tetap Butuh Wi-Fi
"Wi-Fi masih dibutuhkan sebagai komplemen," kata Bart Burnstein, Vice President Product Management and Business Development Ruckus Wireless, dalam jumpa pers pengenalan produk Wi-Fi terbarunya di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (19/11/2009).
Jika dahulu Wi-Fi hanya menjangkau area 100 meter dengan kecepatan transfer data maksimal 386 Kbps, kini Wi-Fi telah berevolusi dengan jangkauan area maksimal 12 kilometer dengan kecepatan transfer data 60 Mbps melalui solusi end to end alias dua titik Wi-Fi mengapit di sepanjang area tersebut.
Semakin pendek jaraknya, kecepatan transfer teknologi yang disebut Smart Wi-Fi pun semakin kencang. Jika jarak yang diapit hanya satu kilometer, maka kecepatan transfer data maksimalnya bisa mencapai 180 Mbps. Demikian teknologi yang katanya bisa digelar oleh Ruckus Wireless.
Meski cakupan jangkauan dan kecepatannya bisa menyaingi 3G dan Wimax, namun Burnstein menolak kalau produk Smart Wi-Fi yang diusungnya akan bersaing secara head to head dengan kedua infrastruktur itu. "Wi-Fi yang kami tawarkan ibarat perpanjangan tangan saja," ia menjelaskan.
Operator yang menggelar teknologi Wi-Fi ini pun katanya tidak akan terbebani investasi tambahan yang signifikan dari sisi belanja modal (capex) dan biaya operasional (opex). Terlebih, penggunaan Wi-Fi tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk lisensi frekuensinya karena melalui akses publik 2,4 GHz.
"Smart Wi-Fi yang kami tawarkan bahkan bisa menghemat investasi capex hingga lima kali lipat dan opex 30 kali lipat jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan operator untuk membangun infrastruktur jaringan Wimax," klaim Bursntein.
Sebagai perbandingan, ia merilis data bahwa operator harus mengeluarkan biaya total US$ 485 ribu untuk pembangunan infrastruktur Wimax dengan jangkauan satu kilometer dan kapasitas 120 Mbps. Sedangkan untuk jangkauan yang sama dengan kapasitas lebih besar, 180 Mbps, implementasi Smart Wi-Fi end to end Ruckus hanya butuh biaya US$ 97 ribu.
Dengan rendahnya biaya investasi yang ditawarkan, perusahaan jebolan Sillicon Valley, Amerika Serikat ini, yakin dengan potensi pasar jaringan nirkabel yang diincarnya di Indonesia. "Di Asia, pasar terbesar kami adalah Filipina dan kemudian Malaysia. Namun dengan pertumbuhan pengguna internet yang beranjak besar, kami yakin Indonesia akan jadi pasar terbesar kami suatu saat nanti," tandas Burnstein.
Sumber:
Detik.com
Cuma 2 Operator yang Penuhi Kewajiban Wimax

Jakarta - Hingga batas akhir waktu yang ditentukan, hanya dua perusahaan saja yang berhasil memenuhi kewajiban lisensi Wimax. Sedangkan enam perusahaan lainnya mangkir semua.
Delapan perusahaan itu merupakan pemenang tender lisensi broadband wireless access (BWA) di pita frekuensi 2,3 GHz, yang digelar Depkominfo beberapa waktu lalu.
Para pemenang tender tersebut adalah PT Telkom, PT Indosat Mega Media (IM2), PT Internux, PT First Media, PT Jasnita Telekomindo, PT Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Wimax Indonesia, serta Konsorsium PT Comtronics Systems dan PT Adiwarta Perdania.
Mereka diberi tenggat hingga 17 November 2009 untuk melakukan pembayaran up front fee dan biaya hak penyelenggaraan (BHP) frekuensi tahun pertamanya.
"Namun hingga menit terakhir penutupan, hanya Telkom dan IM2 saja yang membayar. Sisanya tidak," sesal Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto, kepada detikINET, Rabu (18/11/2009).
Dari keenam perusahaan yang mangkir, hanya satu perusahaan saja yang menyampaikan surat penjelasan alasan tidak melakukan pembayaran tepat waktu.
"Namun alasan dalam surat itu pun tetap tak bisa kami tolerir. Sebab, perusahaan ini tak mau bayar cuma karena alasan tak mau beli perangkat," ujar Gatot tanpa mau menyebut nama perusahaan itu.
Depkominfo sendiri akan mengirimkan surat peringatan kepada enam perusahaan tersebut Rabu pagi ini. Para pemenang tender itu masih diberikan kelonggaran batas waktu pembayaran hingga Jumat pekan ini.
"Jika sampai Jumat masih mangkir juga, mereka tahu konsekuensinya. Mereka sendiri yang menandatangani komitmen ini dari awal. Kalau tak mampu bayar, mengapa waktu itu mereka berani menawar dengan harga jauh lebih tinggi dari reserve price yang kami tawarkan," pungkas Gatot. ( rou / rou )
Sumber:
Detik.com
Wimax First Media Susul Telkom dan IM2

Jakarta - Hingga tenggat akhir perpanjangan masa pembayaran biaya hak penyelenggaraan (BHP) dan up front fee untuk lisensi broadband wireless access (BWA), hanya satu dari enam perusahaan yang tercatat membayar.
Perusahaan itu adalah First Media. Afiliasi dari Lippo Group ini akhirnya menyusul Telkom Indonesia dan Indosat Mega Media (IM2) yang telah lebih dulu melunasi kewajiban tahun pertamanya demi menyelenggarakan akses Wimax di pita 2,3 GHz.
Sementara tiga perusahaan lainnya, Berca Hardayaperkasaya, Internux, dan Jasnita Telekomindo, masih gagal bayar. Ketiga perusahaan ini akan dikenakan denda sebesar 2% setiap bulan selama belum membayar.
"Besok Senin, sanksi untuk mereka akan kami bahas, termasuk kemungkinan pencabutan izin jika diperlukan. Kami tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut," ujar Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto kepada detikINET, Sabtu (21/11/2009).
Berca merupakan pemenang 15 zona dalam lelang 30 paket wilayah melalui tender BWA beberapa waktu lalu. Dari tiga perusahaan yang masih gagal bayar, hanya Berca yang tak memberi penjelasan.
"Cuma dua perusahaan mengirimkan surat keterangan keterlambatan, yakni Internux dan Jasnita. Sedangkan Berca malah belum ada surat atau kabar sama sekali," ungkap Gatot.
Dalam surat yang diterima Depkominfo, Internux dan Jasnita menyatakan meminta penundaan pembayaran sekaligus menerima konsekuensi terkena denda. Namun dalam suratnya, Internux menjelaskan alasan keterlambatan karena masih mempertanyakan kesiapan kandungan lokal.
"Mengenai kandungan lokal pada perangkat, kami sudah menegaskan bahwa pemerintah tidak mungkin mengadakan tender jika masalah itu belum beres. Dan itu sudah disepakati semua pihak dalam komitmen awal," sanggah Gatot.
Selain empat perusahaan ini, sebenarnya masih ada dua yang juga belum membayar kewajiban up front fee dan BHP frekuensi untuk Wimax. Namun karena perusahaan itu berbentuk konsorsium, dan perlu waktu untuk membentuk badan hukum di Departemen Hukum dan HAM, tenggat waktunya pun lebih panjang.
Kedua perusahaan itu adalah Konsorsium Wimax Indonesia (akan menjadi Wireless Telecom Universal) serta Konsorsium Comtronics Systems dan Adiwarta Perdania.
Sumber: Detik.com
13 November 2009
First Media Targetkan Sejuta Pelanggan WiMAX

Jakarta- PT First Media Tbk (KBLV) mengembangkan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access) WiMAX pada 2010 dengan investasi antara Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun.
"Dana untuk investasi di teknologi WiMax setidaknya mencapai Rp1 triliun, akan kita dapatkan dari kas internal dan dari eksternal seperti pinjaman perbankan. Bisa juga dari pasar modal, semua opsi akan kita jajaki dan cari yang terbaik," kata Direktur Keuangan KBLV, Indra Djaja, di Jakarta Jumat (13/11).
Dalam tahap awal pengembangan teknologi WiMAX itu, First Media akan membangun 10 base transceiver station (BTS) di wilayah Jabodetabek.
Menurutnya, di wilayah tersebut ada sekitar 1,7 juta potensi pelanggan. "Dalam 3-4 tahun ke depan, 1 juta pelanggan WiMAX akan dapat kita raih. Setelah Jabodetabek, kita akan masuk ke Sumatera Utara," ujarnya.
Sebelumnya pada Agustus lalu, perseroan telah ditunjuk pemerintah sebagai salah satu pemenang tender penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis Packet Switched yang menggunakan Pita Frekuensi Radio 2.3Ghz untuk keperluan Pita Lebar Nirkabel di wilayah Jabodetabek, Banten dan Sumatera Utara.
Hingga akhir September kemarin, pelanggan jasa internet Fastnet mencapai 145 ribu pelanggan dan 142 ribu untuk TV berbayar.
Sekretaris Perusahaan KBLV, Harianda Noerlan, menambahkan ada sekitar 5.000-7.000 ribu tambahan pelanggan baru setiap bulan. "Ya bisa dihitung berapa kira-kira pelanggan inetrnet dan TV kabel kita," katanya.
Dengan adanya pengembangan teknologi WiMAX dan pengembangan teknologi internet berkecepatan tinggi hingga 10 mega byte per second (MBps), perseroan berharap, pendapatan dan laba bersihnya naik dua kali lipat pada akhir 2010.
"Kita optimis pada 2010, kinerja kita akan tumbuh double," ujar Indra.[*/ito]
Sumber:
Inilah.com
First Media Yakin Wimax Dongkrak Revenue 2010
JAKARTA - Setelah memenangkan tender Wimax, First Media yakin layanan tersebut mampu mendongkrak revenue perusahaan pada tahun 2010 nanti."Revenue hingga September 2009 ini mencapai Rp530 miliar. Tahun 2010 kami yakin akan naik signifikan. Bahkan dua kali lipat menjadi Rp1,5 triliun karena ada dukungan teknologi wimax," ujar Chief Financial Officer Irwan Djaja usai RUPSLB di Hotel Crown Plaza, Jakarta, Jumat (13/11/2009).
Hal ini, lanjut Irwan, dikarenakan pada akhir tahun ini pihaknya akan meluncurkan layanan internet supercepat, yaitu Fastnet dengan performa 10 Mbps.
"Ini layanan internet yang sangat cepat dibanding yang ditawarkan perusahaan lain, kolaborasi Fastnet dan Wimax. Ini akan dapat meningkatkan revenue," katanya.
Ditambahkan Sekretaris First Media Harianda Noerlan, untuk ekspansi teknologi ini, First Media saat ini sedang melakukan penjajakan untuk memperoleh pendanaan sebesar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun.
"Ini merupakan teknologi baru sehingga kami masih harus mencari distributor dan supplier alat-alat untuk infrastruktur Wimax," ujar Harianda.
Akhir tahun ini, perusahaan pun berencana akan membangun base transceiver station (BTS) sebanyak 10 unit untuk tahap awal di Jabodetabek. Sehingga diharapkan, dalam dua sampai tiga tahun ke depan, First Media bisa memenuhi target kebijakan dari pemerintah yang mengharuskan raihan lebih dari 1 juta pelanggan.
"Akhir tahun kita mau launching 10 BTS di Jabodetabek, entah dibangun, bisa juga kita sewa. Setelah itu, ekspansi lanjut ke Banten dan Sumatera Utara," jelasnya. (srn)
Sumber: Okezone.com
12 November 2009
What is Wimax?
With WiMAX, WiFi-like data rates are easily supported, but the issue of interference is lessened. WiMAX operates on both licensed and non-licensed frequencies, providing a regulated environment and viable economic model for wireless carriers.
WiMAX can be used for wireless networking in much the same way as the more common WiFi protocol. WiMAX is a second-generation protocol that allows for more efficient bandwidth use, interference avoidance, and is intended to allow higher data rates over longer distances.
The IEEE 802.16 standard defines the technical features of the communications protocol. The WiMAX Forum offers a means of testing manufacturer's equipment for compatibility, as well as an industry group dedicated to fostering the development and commercialization of the technology.
WiMax.com provides a focal point for consumers, service providers, manufacturers, analysts, and researchers who are interested in WiMAX technology, services, and products. Soon, WiMAX will be a very well recognized term to describe wireless Internet access throughout the world.
Source:
http://www.wimax.com/education
Wimax : Teknologi yang Menjanjikan untuk Pengembangan Aplikasi Mobile di Indonesia

Wimax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) adalah sebuah teknologi nirkabel yang didesain agar mampu menyediakan data dengan kecepatan tinggi bahkan pada komunikasi antar-tempat yang dipisahkan oleh jarak yang jauh. Apa kelebihan Wimax? Apabila kita lihat teknologi yang digunakan untuk mengakses internet saat ini seperti koneksi kabel broadband, Wifi, dan bahkan dial-up semuanya memiliki permasalahan masing-masing. Akses internet dengan menggunakan broadband biasanya mahal dan tentu saja sangat jarang tersedia di daerah pinggiran kota apalagi di daerah pedesaan. Wifi memiliki cakupan sinyal yang sangat terbatas dan dial-up memiliki kecepatan transfer data yang rendah.
Wimax sendiri memang didesain untuk mengatasi permasalahan tersebut. Wimax mampu memberikan layanan data pada ratusan pengguna dalam radius 40-50km untuk fixed terminal dan 5-25 km untuk terminal yang bersifat mobile. Pengguna tersebut akan meng-share sinyal dan kanal transmisi data dengan kecepatan transfer data sampai 70Mbps. Dengan kecepatan transfer data yang tinggi dan nirkabel, biaya pemasangan Wimax akan menjadi lebih murah dibandingkan dengan teknologi lain yang memerlukan pemasangan fiber optik. Meskipun demikian alternatif teknologi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada gambar di atas dapat dilihat perbandingan beberapa teknologi dilihat dari sisi kecepatan dan mobilitas.
Standar Wimax didesain sehingga memberikan framework yang sama untuk koneksi nirkabel dalam lingkungan yang fixed, portable atau mobile. Pada aplikasi mobile, pengguna Wimax menggunakan terminal seperti saat menggunakan Wifi. Jadi bisa menggunakan peralatan seperti notebook, PDA, dan telepon seluler. Pemanfaatan Wimax sama dengan pemanfaatan Wifi. Sebuah terminal dapat mendeteksi jaringan Wimax dan Wifi sehingga pengguna bisa memilih untuk menggunakan jaringan Wimax atau Wifi. Saat ini, sudah bermunculan produk notebook dan telepon seluler yang mendukung Wimax misalnya Nokia 810 dan Samsung SPH-P9000.
Oleh Krisantus Sembiring
Sumber: jakarta.wartaegov.com
30 July 2009
Teknologi 4G LTE Sulit Masuk ke Indonesia
Jakarta - Ada dua hal yang menyebabkan operator seluler di Indonesia terancam tak bisa mengimplementasikan teknologi jaringan generasi keempat (4G) berbasis Long Term Evolution (LTE). Apa saja?
Alasan pertama karena masalah Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). 4G LTE kemungkinan tak bisa diimplementasikan di Indonesia jika perusahaan teknologi asing yang mengusung inovasi tersebut tak mampu mengajak mitra lokal bekerja sama memenuhi ketentuan kandungan dalam negeri.
"Kemungkinan TKDN seperti di Wimax BWA akan diterapkan juga di LTE agar tercipta equal level playing field. Jika para pengusung LTE tidak bisa memenuhi TKDN, bisa saja tidak bisa diimplementasi di Indonesia," kata Direktur Standardisasi Ditjen Postel Depkominfo, Azhar Hasyim, di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (29/7/2009).
Sejauh ini di Wimax BWA, baru dua perusahaan yang dinyatakan lulus TKDN oleh pemerintah, yakni Harrif dan TRG. Keduanya memperoleh sertifikasi perangkat untuk 4G Wimax BWA dengan standar nomadic atau 16d.
"Ada banyak perusahaan asing yang mengajukan sertifikasi, tetapi kami tolak karena tidak mampu memenuhi TKDN. Bahkan ada juga yang memasukkan sertifikasi perangkat Wimax standar mobile atau 16e. Padahal lelang untuk Wimax 16e baru dilakukan tahun depan," kata Azhar.
Sudah ditunggu
Kembali ke LTE, teknologi seluler ini sejatinya merupakan pengembangan terakhir dalam hal akses data bergerak dengan standar IEEE 802.20. Teknologi ini sudah ditunggu oleh sejumlah operator seluler seperti Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo Pratama (XL) untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data mereka.
Jelas saja, LTE yang merupakan kelanjutan dari 3G/HSPA, lebih mudah untuk diimplementasikan karena dari aspek ketersediaan spektrum, LTE dapat digunakan pada alokasi frekuensi yang tersedia saat ini.
Namun demikian, LTE bisa saja tidak dibutuhkan oleh operator seluler. Sebab, jika dilihat dari perkembangan teknologi seluler sejak evolusi GSM, ketika memasuki era LTE ada garis terputus. Ini yang jadi alasan kedua.
"Terdapat persimpangan mau memilih Wimax atau LTE. Sementara, di masa depan akan ada terminal yang memungkinkan Wimax dan LTE bisa dalam satu perangkat. Kalau sudah seperti ini, apa ada urgensi LTE dikembangkan di Indonesia," pungkasnya. ( rou / faw ).
Sumber: detikInet.com
30 May 2009
Uji Seksi WiMax Lokal

Mereka akan bersaing meraih lisensi WiMAX dengan pita frekuensi 2,3 GHz di 15 wilayah (lihat: Zonasi Layanan Pita Lebar Nirkabel 2,3 GHz). Masing-masing zona menyediakan 30 kanal MHz, yang terbagi menjadi dua blok masing-masing 15 MHz. Bila sesuai dengan jadwal, proses lelang akan berakhir 17 Juni 2009 dengan penetapan pemenang di tiap wilayah.
Antusiasme pelamar ini tergolong mengejutkan. Maklum, sejak awal tahun ini, serangan bertubi bersarang ke Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) terkait kebijakan lelang layanan akses pita lebar nirkabel (broadband wireless access –BWA).
Setelah melalui proses panjang selama tiga tahun, akhirnya Menteri Kominfo, Muhammad Nuh, mengesahkan empat peraturan terkait dengan penataan pita radio dan lelang BWA. Dua beleid yang keluar pada Januari lalu memutuskan beberapa hal penting terkait dengan lelang BWA.
Antara lain menetapkan pita frekuensi 2,3 GHz sampai 2,4 GHz selebar 90 MHz sebagai kanal jaringan tetap lokal berbasis radio yang memakai BWA dengan moda TDD (time division duplex). Lebar kanal ini terbagi menjadi 12 blok dengan masing-masing 5 MHz, dua blok masing-masing 15 MHz, dan satu blok 10 MHz. Pemerintah juga memutuskan, lelang operator BWA tahao pertama hanya untuk teknologi WiMAX berstandar 802.16d. Standar ini dikenal dengan istilah fixed and nomadic WiMAX.
Selain itum tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk peranti BWA 2.3 GHz ditetapkan minimal 30% untuk subscriber station (SS) atau customer premise equipment (CPE), yaitu peranti penerima yang dipegang konsumen, dan 40% untuk base station (BS/stasiun pemancar). Secara bertahap, TKDN harus naik menjadi sekurang-kurangnya 50% dalam waktu lima tahun.
Kewajiban TKDN adalah wujud keinginan pemerintah menghidupkan industri manufaktur telekomunikasi Indonesia. Selama ini, Indonesia hanya menjadi pasar produk-produk telekomunikasi asing. Setiap tahun, sekitar 99% dari belanja modal operator telekomunikasi mengalir ke luar. Nilai belanja modal tahun lalu saja mencapai RP 44 trilyun.
Nah, poin inilah yang mendapat kritik pedas Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI). Menurut salah satu penggiat FKBWI, Wahyu Haryadi, niat baik pemerintah itu belum didukung dengan kesiapan industri dalam negeri. Sebab belum ada vendor peranti WiMAX lokal yang memenuhi standar WiMAX Forum dan memenuhi harapan operator BWA.
Pemakaian standar 802.16d di pita 2,3 GHz oleh vendor WiMAX lokl tak sesuai dengan roadmap WiMAX Forum. Sebab pita 2,3 GHz dan 2,5 GHz diperuntukkan bagi standar mobile WiMAX 802.16e. Wahyu pun menyinggung tentang kapasitas BS vendor lokal yang hanya sanggup menampung 10 CPE. “Kapasitas maksimum ini sangat tidak memenuhgi ekspektasi operator BWA. Belum lagi kestabilan perangkat yang belum teruji di lapangan,” kata Wahyu.
Ia menilai, pemilihan standar yang tak sesuai dengan WiMAX Forum membuat harga peranti tak kompetitif. Misalnya, CPE WiMAX lokal dibanderol Rp 3 juta per unit. Harga setinggi ini akan menyulitkan operator layanan WiMAX memberikan harga murah kepada Pelanggan.

WiMAX sebagai layanan keempat telekomunikasi (4G) memang digadang-gadang menjadi sarana untuk memperluas jangkauan telepon dan internet di Indonesia. Teknologi nirkabel pita lebar berbasis protokol internet berkecepatan tinggi ini sanggup menerima data hingga 50 megabyte per detik (mbps). Jauh lebih cepat dari layanan internet berbasis layanan selular generasi ketiga (3G) yang hanya sekitar 2,4 mbps.
Kecepatan seperti ini membuat beragam aktivitas multimedia, seperti menonton dan mengunduh film, multi-player online games, video conference, dan browsing internet bisa dilakukan secara bersamaan dengan nyaman.
Managing Director Southeast Asia WiMAX Program Officer Intel Corp, Werner Susanto, menyebutkan bahwa standardisasi WiMAX profile 1B (pita 2,3 GHz dengan saluran 5 MHz/10MHz) paling diminati negara-negara Asia. Antara lain Singapura, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Filipina, dan Bangladesh. Profil 1B didukung penuh para vendor jaringan seperti Alcatel Lucent, Motorola, Samsung, dan Cisco.
Dukungan juga datang dari produsen ODM (original design manufacturer) penghasil CPE dan USB dongle. Alhasil, 1B makin cepat mencapai skala ekonomi sehingga mendorong penurunan harga CPE. Dalam setahun, harga CPE per unit turun US$ 160 menjadi US$ 80. Sampai Maret lalu, harganya telah menyentuh US$ 60. Skala ekonomi ini tak bisa dinikmati Indonesia bila tetap memilih standar 802.16d di frekuensi 2,3 GHz.
Namun keterjangkauan harga layanan WiMAX juga ditentukan oleh harga frekuensi BWA yang dipatok pemerintah. Agar terjangkau, harga spektrym hrus lebih murah daripada spektrum 3G senilai Rp 160 milyar per 5 MHz untuk lisensi nasional. FKBWI mengusulkan, lelang pita BWA hanya sepersepuluh dari harga frekuensi 3G, yaitu sekitar Rp 250 juta per 1 MHz.
Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, Gatot S. Dewa Broto, menjamin bahwa harga lelang BWA tidak akan semahal 3G. Ia memang belum bisa menyebutkan berapa nilai dasar yang dipakai pemerintah. Sebab nilai itu baru muncul setelah babak prakualifikasi selesai, awal Juli nanti. "Sebagai perbandingan, biaya hak penyelenggaraan frekuensi BWA selama ini sudah berbeda dari 3G," katanya.

Gatot menambahkan, keputusan pemerintah dalam pemilihan standar teknologi BWA, frekuensi, dan TKDN diambil secara proporsional. Menurut Gatot, jika keinginan stakeholder yang semuanya dikuasai vendor asing diikuti, industri dalam negeri tak akan pernah punya peluang hidup.
Gatot mengakui, standar 802.16e lebih baik dan telah dipakai oleh 16 negara. Apalagi, standar ini bisa bermigrasi dengan mulus ke 802.16m yang punya kecepatan akses data lebih tinggi dan mobile. Namun vendor lokal yang sudah berinvestasi puluhan milyar rupiah baru sanggup membuat peranti berstandar 802.16d.
***
Para produsen tentu butuh waktu untuk mencapai titik impas. Jika pemerintah memilih standar 802.16e yang semua perantinya masih dikuasai vendor asing, vendor lokal WiMAX akan mati. "Selain perlindungan industri dalam negeri, kami juga menilai, standar nomadic sangat tepat untuk pasar Indonesia yang sebagian besar rural dan penetrasi akses datanya belum tinggi," ujarnya.
Standar 802.16e yang mobile lebih tepat dipakai masyarakat perkotaan yang mobilitasnya tinggi. Lagi pula, anggapan bahwa skala ekonomi sulit tercapai tak sepenuhnya tepat. Sebab pasar layanan internet pita lebar di Indonesia masih sangat besar. Penetrasi pemakai layanan pita lebar baru mencapai 0,2% dari 235 juta penduduk Indonesia.
Tak mengherankan bila selama ini Indonesia selalu menjadi incaran vendor-vendor teknologi asing. Dan hasilnya, dunia telekomunikasi kita didominasi asing. Pemerintrah secara perlahan ingin mengubah peta ini. Dimulai dengan persyaratan kandungan lokal pada pelaksanaan layanan 3G.
Lalu disambung dengan ketentuan TKDN untuk peranti WiMAX. Sampai kini, ada dua produsen BS dan CPE WiMAX dalam negeri yang memenuhi sertifikasi TKDN dari Departemen Perindustrian. Keduanya adalah PT. Teknologi Riset Global (TRG) yang mengusung merek TRG WiMAX dan PT. Hariff Daya Tunggal dengan produk Himax.
Selain itu, ada satu perusahaan lokal yang sanggup membuat chipset WiMAX bernama Xirca. Chipset ini hasil kreasi tim dari Institut Teknologi Bandung yang kemudian dibeli Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Sylvia Sumarlin, untuk diproduksi secara komersial. Xirca-lah yang memasok chipset bagi dua vendor jaringan WiMAX lokal itu.
Untuk membangun peranti WiMAX, TRG dan Hariff sama-sama menggandeng mitra dari Kanada. TRG dengan Tranzeo Wireless Technologies Inc, sedangkan Hariff dengan Wavesar. Duet ini dibutuhkan karena masih ada beberapa komponen elektronik yang tidak tersedia di Indonesia.
Menurut Sakti Wahyu Trenggono, Direktur PT TRG, desain chipset mereka harus dibuat di Kanada. Desain printed circuit board (PCB) juga masih harus dibuat di Taiwan. Sebab di Indonesia belum ada perusahaan yang bisa membuat PCB enam lapis sesuai dengan desain TRG. Komponen lain sudah bisa diproduksi di Batam dan Bandung.
Hasilnya, kandungan lokal TRG dan Hariff memenuhi persyaratan TKDN. Hasil diaudit PT Surveyor Indonesia menunjukkan, kandungan lokal Himax mencapai 67,47% untuk BS dan 36,16% untuk CPE.
Selain memenuhi syarat TKDN, PT TRG-anak usaha PT Solusindo Kreasi Pratama (Indonesian Tower)-juga mengklaim bisa memasok 1,5 juta unit peranti WiMAX setiap tahun. Perangkat ini terdiri dari BS, CPE, dan access manager untuk pengelolaan BS dan lalu lintas data. Ditambah dengan billing server, yaitu sistem pendataan jumlah pemakaian serta informasi tagihan dan EMS Server, sistem manajemen operasional menjadi jantung operasional WiMAX.
Untuk memasok peranti-peranti itu, TRG dan Hariff masing-masing menginvestasikan puluhan milyar rupiah. Untuk membuat prototipe saja, biayanya mencapai Rp 10 milyar. Apalagi bila biaya produksi dihitung.
Menurut executive General Manager Telkom Divisi Regional 1 Sumatera, Muhammad Awaluddin, kecepatan akses WiMAX ketika diuji coba di Sumatera mencapai 20 mbps, dengan daya jangkau sampai 20 kilometer. Berbekal uji coba ini, Telkom berencana menyelimuti seluruh Sumatera dengan jarigan WiMAX. Jika sukses mendapat lisensi WiMAX, mereka akan membangun 40 node (setara dengan 139 BS) WiMAX.
***
Sekjen Masyaralat Telematika Indonesia, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, menegaskan bahwa kemampuan yang ditunjukkan para pemain WiMAX lokal rupanya membuat pabrikanasing keder. Sebab ini berarti, Indonesia tak lagi bisa dijadikan sebagai mesin penghasil keuntungan besar. "Tentu mereka tak mudah menyerah. Berbagai langkah dilakukan, dari membangun usaha kemitraan dengan pengusaha lokal hingga memakai lobi-lobi politik ke birokrat, politisi, dan LSM," kata Mas Wig, panggilan akrab Wigrantoro.
Salah satu pengusung usul kemitraan ini adalah Intel, yang merupakan penggerak WiMAX Forum. Menurut Werner, Intel menawarkan kolaborasi industri global pembuat 802.16e dengan pengembang lokal. Tujuannya, mengurangi kurva belajar, lebih cepat dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, dan harga yang bersaing. "Kami ingin menjadi mak comblang antara industri lokal dan global, serta membuat manufaktur lokal bisa sustainable," ujar Werner.
Keinginan vendor asing itu memang layak diapresiasi. Tapi jangan sampai melenakan pemerintah dalam usaha membangun kemandirian teknologi dari asing.
Antara WiMAX dan LTE
Bagi pengguna Internet, istilah pita lebar atau broadband bukanlah suatu hal yang asing. Jika diartikan secara sederhana, broadband diibaratkan pipa yang lebar untuk koneksi Internet, sehingga memberikan akses yang jauh lebih cepat hingga 10-20 kali lipat dibandingkan modem dial-up yang hanya mampu menghantarkan kecepatan di kisaran 30 hingga 50 kilobit per second (Kbps).Karena kecepatan yang ditawarkannya sangat tinggi, maka layanan broadband mampu menghadirkan aplikasi multimedia seperti aplikasi video dan music-on-demand, multi-player online games, voice, dan video communications dengan nyaman.
Di Indonesia, tanda-tanda masuknya broadband mulai terlihat dengan diperkenalkannya teknologi 3G tiga tahun lalu. Evolusi dari teknologi data milik GSM tersebut mampu menghantarkan data hingga 2 Mbps.Namun, teknologi terus berkembang. Ketika 3G baru diluncurkan, para praktisi mulai sibuk membicarakan keberadaan Worldwide Interoperability for Microwave Acces (Wimax) yang lebih baik menghantarkan data ketimbang 3G.
Wimax secara sederhana dikatakan teknologi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita lebar layaknya Wi-Fi namun dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi lebih cepat yakni mencapai 75 Mbps.Tak mau ketinggalan, teknologi seluler pun meluncurkan Long Term Evolution (LTE). LTE adalah siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler dengan standar IEEE 802.20 yang diproyeksikan menemukan momentumnya pada 2010 nanti.
Dalam uji coba operator seluler terbesar di Jepang, NTT DoCoMo, pada Februari 2008, terungkap bahwa kecepatan downlink LTE bisa mencapai 250 Mbps sementara uplink berkisar 50 Mbps.Di luar negeri diperkirakan LTE tidak akan dikomersialkan akhir tahun ini. LTE banyak dipergunakan operator untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data.
Hal ini karena dari aspek ketersediaan spektrum, LTE dapat digunakan pada alokasi yang tersedia.AnomaliPemerintah telah menetapkan pada bulan depan tender Broadband Wireless Access (BWA) akan dibuka.Untuk tahap awal akan terdapat 100 MHz pita frekuensi yang akan ditender di pita 2,3 GHz dan 3,3 GHz. Bakrie Telecom, Indosat, dan Telkom telah menunjukkan minatnya untuk ikut dalam tender tersebut.Jika dilihat sekilas, pemerintah lebih memberikan jalan eksklusif bagi Wimax. Hal ini karena industri manufaktur dalam negeri bisa menjadi pemain dominan di teknologi tersebut.
Saat ini, pemain lokal yang mampu menopang teknologi Wimax adalah TRG, Hariff, dan Xirka.Sayangnya, bagi sebagian praktisi kebijakan pemerintah dalam mengembangkan teknologi Wimax banyak terjadi anomali. Pemerintah lebih memlih mengembangkan standar 802.16d ketimbang 802.16e.
Sumber: www.koran-jakarta.com
