Showing posts with label WiFi. Show all posts
Showing posts with label WiFi. Show all posts

21 November 2009

Operator 3G dan Wimax Tetap Butuh Wi-Fi

Jakarta - Akses internet nirkabel menggunakan teknologi jaringan Wi-Fi dinilai masih tetap diperlukan operator untuk menutupi keterbatasan area cakupan jaringan layanan pita lebar nirkabel yang diselenggarakan melalui infrastruktur 3G maupun Wimax.

"Wi-Fi masih dibutuhkan sebagai komplemen," kata Bart Burnstein, Vice President Product Management and Business Development Ruckus Wireless, dalam jumpa pers pengenalan produk Wi-Fi terbarunya di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (19/11/2009).

Jika dahulu Wi-Fi hanya menjangkau area 100 meter dengan kecepatan transfer data maksimal 386 Kbps, kini Wi-Fi telah berevolusi dengan jangkauan area maksimal 12 kilometer dengan kecepatan transfer data 60 Mbps melalui solusi end to end alias dua titik Wi-Fi mengapit di sepanjang area tersebut.

Semakin pendek jaraknya, kecepatan transfer teknologi yang disebut Smart Wi-Fi pun semakin kencang. Jika jarak yang diapit hanya satu kilometer, maka kecepatan transfer data maksimalnya bisa mencapai 180 Mbps. Demikian teknologi yang katanya bisa digelar oleh Ruckus Wireless.

Meski cakupan jangkauan dan kecepatannya bisa menyaingi 3G dan Wimax, namun Burnstein menolak kalau produk Smart Wi-Fi yang diusungnya akan bersaing secara head to head dengan kedua infrastruktur itu. "Wi-Fi yang kami tawarkan ibarat perpanjangan tangan saja," ia menjelaskan.

Operator yang menggelar teknologi Wi-Fi ini pun katanya tidak akan terbebani investasi tambahan yang signifikan dari sisi belanja modal (capex) dan biaya operasional (opex). Terlebih, penggunaan Wi-Fi tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk lisensi frekuensinya karena melalui akses publik 2,4 GHz.

"Smart Wi-Fi yang kami tawarkan bahkan bisa menghemat investasi capex hingga lima kali lipat dan opex 30 kali lipat jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan operator untuk membangun infrastruktur jaringan Wimax," klaim Bursntein.

Sebagai perbandingan, ia merilis data bahwa operator harus mengeluarkan biaya total US$ 485 ribu untuk pembangunan infrastruktur Wimax dengan jangkauan satu kilometer dan kapasitas 120 Mbps. Sedangkan untuk jangkauan yang sama dengan kapasitas lebih besar, 180 Mbps, implementasi Smart Wi-Fi end to end Ruckus hanya butuh biaya US$ 97 ribu.

Dengan rendahnya biaya investasi yang ditawarkan, perusahaan jebolan Sillicon Valley, Amerika Serikat ini, yakin dengan potensi pasar jaringan nirkabel yang diincarnya di Indonesia. "Di Asia, pasar terbesar kami adalah Filipina dan kemudian Malaysia. Namun dengan pertumbuhan pengguna internet yang beranjak besar, kami yakin Indonesia akan jadi pasar terbesar kami suatu saat nanti," tandas Burnstein.

Sumber:
Detik.com


12 November 2009

Wimax : Teknologi yang Menjanjikan untuk Pengembangan Aplikasi Mobile di Indonesia


Wimax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) adalah sebuah teknologi nirkabel yang didesain agar mampu menyediakan data dengan kecepatan tinggi bahkan pada komunikasi antar-tempat yang dipisahkan oleh jarak yang jauh. Apa kelebihan Wimax? Apabila kita lihat teknologi yang digunakan untuk mengakses internet saat ini seperti koneksi kabel broadband, Wifi, dan bahkan dial-up semuanya memiliki permasalahan masing-masing. Akses internet dengan menggunakan broadband biasanya mahal dan tentu saja sangat jarang tersedia di daerah pinggiran kota apalagi di daerah pedesaan. Wifi memiliki cakupan sinyal yang sangat terbatas dan dial-up memiliki kecepatan transfer data yang rendah.


Wimax sendiri memang didesain untuk mengatasi permasalahan tersebut. Wimax mampu memberikan layanan data pada ratusan pengguna dalam radius 40-50km untuk fixed terminal dan 5-25 km untuk terminal yang bersifat mobile. Pengguna tersebut akan meng-share sinyal dan kanal transmisi data dengan kecepatan transfer data sampai 70Mbps. Dengan kecepatan transfer data yang tinggi dan nirkabel, biaya pemasangan Wimax akan menjadi lebih murah dibandingkan dengan teknologi lain yang memerlukan pemasangan fiber optik. Meskipun demikian alternatif teknologi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada gambar di atas dapat dilihat perbandingan beberapa teknologi dilihat dari sisi kecepatan dan mobilitas.


Standar Wimax didesain sehingga memberikan framework yang sama untuk koneksi nirkabel dalam lingkungan yang fixed, portable atau mobile. Pada aplikasi mobile, pengguna Wimax menggunakan terminal seperti saat menggunakan Wifi. Jadi bisa menggunakan peralatan seperti notebook, PDA, dan telepon seluler. Pemanfaatan Wimax sama dengan pemanfaatan Wifi. Sebuah terminal dapat mendeteksi jaringan Wimax dan Wifi sehingga pengguna bisa memilih untuk menggunakan jaringan Wimax atau Wifi. Saat ini, sudah bermunculan produk notebook dan telepon seluler yang mendukung Wimax misalnya Nokia 810 dan Samsung SPH-P9000.


Oleh Krisantus Sembiring

Sumber: jakarta.wartaegov.com


Share/Bookmark

27 October 2009

WiFi Repeater dengan tenaga angin


Salah satu energi alternatif yang paling banyak digunakan adalah tenaga angin (wind powered) karena selain mudah didapatkan dan yang pasti gratis. :D


Tetapi kelemahan dari tenaga angin ini adalah masalah lokasi pemasangan dimana akan menjadi kendala bila angin yang datang terlalu kecil.


Sekelompok mahasiswa dari RIT telah membuat sebuah WiFi Repeater dengan menggunakan tenaga angin tetapi desain dan teknologi yang digunakan memungkinkan alat ini (turbin angin yang ada) terus bekerja walaupun dengan angin yang kecil (hampir tidak ada angin).


Mengingat sudah banyaknya WiFi repeater di Indonesia, mungkin sudah saatnya kita melakukan atau menciptakan hal yang sama seperti mereka.


sumber:

otakku, www.scienceprog.com


30 May 2009

Uji Seksi WiMax Lokal

Gatra, edisi 20 Mei 2009
Oleh Astari Yanuarti

Layanan telekomunikasi berbasis WiMAX segera menyapa seluruh Nusantara. Vendor WiMAX lokal sudah unjuk gigi. Harga layanan terjangkau jika biaya lelang spektrum WiMAX lebih murah dari 3G.

Rentetan Hujatan dan keraguan tak sanggup memupus keseksian WiMAX (Worldwide interoperability for Microsoft Access). Buktinya, lelang layanan akses pita lebar nirkabel yang dibuka pada akhir bulan lalu kebanjiran peminat. Tercatat 73 pelamar yang mengambil dokumen seleksi.

Mereka berasal dari berbagai jenis usaha dalam bidang telekomunikasi. Ada sederet operator yang sudah beken, seperti PT Telkom, PT Indosat, Bakrie Telecom, dan Smart. Disusul dari kalangan penyedia jasa internet, seperti Dyviacom Intrabumi, Centrin Online, dan Lintas Artha. Juga tak ketinggalan dari penyedia jasa layanan TV berbayar, seperti PT Broadband Multimedia.



Mereka akan bersaing meraih lisensi WiMAX dengan pita frekuensi 2,3 GHz di 15 wilayah (lihat: Zonasi Layanan Pita Lebar Nirkabel 2,3 GHz). Masing-masing zona menyediakan 30 kanal MHz, yang terbagi menjadi dua blok masing-masing 15 MHz. Bila sesuai dengan jadwal, proses lelang akan berakhir 17 Juni 2009 dengan penetapan pemenang di tiap wilayah.

Antusiasme pelamar ini tergolong mengejutkan. Maklum, sejak awal tahun ini, serangan bertubi bersarang ke Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) terkait kebijakan lelang layanan akses pita lebar nirkabel (broadband wireless access –BWA).

Setelah melalui proses panjang selama tiga tahun, akhirnya Menteri Kominfo, Muhammad Nuh, mengesahkan empat peraturan terkait dengan penataan pita radio dan lelang BWA. Dua beleid yang keluar pada Januari lalu memutuskan beberapa hal penting terkait dengan lelang BWA.

Antara lain menetapkan pita frekuensi 2,3 GHz sampai 2,4 GHz selebar 90 MHz sebagai kanal jaringan tetap lokal berbasis radio yang memakai BWA dengan moda TDD (time division duplex). Lebar kanal ini terbagi menjadi 12 blok dengan masing-masing 5 MHz, dua blok masing-masing 15 MHz, dan satu blok 10 MHz. Pemerintah juga memutuskan, lelang operator BWA tahao pertama hanya untuk teknologi WiMAX berstandar 802.16d. Standar ini dikenal dengan istilah fixed and nomadic WiMAX.

Selain itum tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk peranti BWA 2.3 GHz ditetapkan minimal 30% untuk subscriber station (SS) atau customer premise equipment (CPE), yaitu peranti penerima yang dipegang konsumen, dan 40% untuk base station (BS/stasiun pemancar). Secara bertahap, TKDN harus naik menjadi sekurang-kurangnya 50% dalam waktu lima tahun.

Kewajiban TKDN adalah wujud keinginan pemerintah menghidupkan industri manufaktur telekomunikasi Indonesia. Selama ini, Indonesia hanya menjadi pasar produk-produk telekomunikasi asing. Setiap tahun, sekitar 99% dari belanja modal operator telekomunikasi mengalir ke luar. Nilai belanja modal tahun lalu saja mencapai RP 44 trilyun.

Nah, poin inilah yang mendapat kritik pedas Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI). Menurut salah satu penggiat FKBWI, Wahyu Haryadi, niat baik pemerintah itu belum didukung dengan kesiapan industri dalam negeri. Sebab belum ada vendor peranti WiMAX lokal yang memenuhi standar WiMAX Forum dan memenuhi harapan operator BWA.

Pemakaian standar 802.16d di pita 2,3 GHz oleh vendor WiMAX lokl tak sesuai dengan roadmap WiMAX Forum. Sebab pita 2,3 GHz dan 2,5 GHz diperuntukkan bagi standar mobile WiMAX 802.16e. Wahyu pun menyinggung tentang kapasitas BS vendor lokal yang hanya sanggup menampung 10 CPE. “Kapasitas maksimum ini sangat tidak memenuhgi ekspektasi operator BWA. Belum lagi kestabilan perangkat yang belum teruji di lapangan,” kata Wahyu.

Ia menilai, pemilihan standar yang tak sesuai dengan WiMAX Forum membuat harga peranti tak kompetitif. Misalnya, CPE WiMAX lokal dibanderol Rp 3 juta per unit. Harga setinggi ini akan menyulitkan operator layanan WiMAX memberikan harga murah kepada Pelanggan.


WiMAX sebagai layanan keempat telekomunikasi (4G) memang digadang-gadang menjadi sarana untuk memperluas jangkauan telepon dan internet di Indonesia. Teknologi nirkabel pita lebar berbasis protokol internet berkecepatan tinggi ini sanggup menerima data hingga 50 megabyte per detik (mbps). Jauh lebih cepat dari layanan internet berbasis layanan selular generasi ketiga (3G) yang hanya sekitar 2,4 mbps.

Kecepatan seperti ini membuat beragam aktivitas multimedia, seperti menonton dan mengunduh film, multi-player online games, video conference, dan browsing internet bisa dilakukan secara bersamaan dengan nyaman.

Managing Director Southeast Asia WiMAX Program Officer Intel Corp, Werner Susanto, menyebutkan bahwa standardisasi WiMAX profile 1B (pita 2,3 GHz dengan saluran 5 MHz/10MHz) paling diminati negara-negara Asia. Antara lain Singapura, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Filipina, dan Bangladesh. Profil 1B didukung penuh para vendor jaringan seperti Alcatel Lucent, Motorola, Samsung, dan Cisco.

Dukungan juga datang dari produsen ODM (original design manufacturer) penghasil CPE dan USB dongle. Alhasil, 1B makin cepat mencapai skala ekonomi sehingga mendorong penurunan harga CPE. Dalam setahun, harga CPE per unit turun US$ 160 menjadi US$ 80. Sampai Maret lalu, harganya telah menyentuh US$ 60. Skala ekonomi ini tak bisa dinikmati Indonesia bila tetap memilih standar 802.16d di frekuensi 2,3 GHz.

Namun keterjangkauan harga layanan WiMAX juga ditentukan oleh harga frekuensi BWA yang dipatok pemerintah. Agar terjangkau, harga spektrym hrus lebih murah daripada spektrum 3G senilai Rp 160 milyar per 5 MHz untuk lisensi nasional. FKBWI mengusulkan, lelang pita BWA hanya sepersepuluh dari harga frekuensi 3G, yaitu sekitar Rp 250 juta per 1 MHz.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, Gatot S. Dewa Broto, menjamin bahwa harga lelang BWA tidak akan semahal 3G. Ia memang belum bisa menyebutkan berapa nilai dasar yang dipakai pemerintah. Sebab nilai itu baru muncul setelah babak prakualifikasi selesai, awal Juli nanti. "Sebagai perbandingan, biaya hak penyelenggaraan frekuensi BWA selama ini sudah berbeda dari 3G," katanya.


Gatot menambahkan, keputusan pemerintah dalam pemilihan standar teknologi BWA, frekuensi, dan TKDN diambil secara proporsional. Menurut Gatot, jika keinginan stakeholder yang semuanya dikuasai vendor asing diikuti, industri dalam negeri tak akan pernah punya peluang hidup.
Gatot mengakui, standar 802.16e lebih baik dan telah dipakai oleh 16 negara. Apalagi, standar ini bisa bermigrasi dengan mulus ke 802.16m yang punya kecepatan akses data lebih tinggi dan mobile. Namun vendor lokal yang sudah berinvestasi puluhan milyar rupiah baru sanggup membuat peranti berstandar 802.16d.

***

Para produsen tentu butuh waktu untuk mencapai titik impas. Jika pemerintah memilih standar 802.16e yang semua perantinya masih dikuasai vendor asing, vendor lokal WiMAX akan mati. "Selain perlindungan industri dalam negeri, kami juga menilai, standar nomadic sangat tepat untuk pasar Indonesia yang sebagian besar rural dan penetrasi akses datanya belum tinggi," ujarnya.

Standar 802.16e yang mobile lebih tepat dipakai masyarakat perkotaan yang mobilitasnya tinggi. Lagi pula, anggapan bahwa skala ekonomi sulit tercapai tak sepenuhnya tepat. Sebab pasar layanan internet pita lebar di Indonesia masih sangat besar. Penetrasi pemakai layanan pita lebar baru mencapai 0,2% dari 235 juta penduduk Indonesia.

Tak mengherankan bila selama ini Indonesia selalu menjadi incaran vendor-vendor teknologi asing. Dan hasilnya, dunia telekomunikasi kita didominasi asing. Pemerintrah secara perlahan ingin mengubah peta ini. Dimulai dengan persyaratan kandungan lokal pada pelaksanaan layanan 3G.

Lalu disambung dengan ketentuan TKDN untuk peranti WiMAX. Sampai kini, ada dua produsen BS dan CPE WiMAX dalam negeri yang memenuhi sertifikasi TKDN dari Departemen Perindustrian. Keduanya adalah PT. Teknologi Riset Global (TRG) yang mengusung merek TRG WiMAX dan PT. Hariff Daya Tunggal dengan produk Himax.

Selain itu, ada satu perusahaan lokal yang sanggup membuat chipset WiMAX bernama Xirca. Chipset ini hasil kreasi tim dari Institut Teknologi Bandung yang kemudian dibeli Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Sylvia Sumarlin, untuk diproduksi secara komersial. Xirca-lah yang memasok chipset bagi dua vendor jaringan WiMAX lokal itu.

Untuk membangun peranti WiMAX, TRG dan Hariff sama-sama menggandeng mitra dari Kanada. TRG dengan Tranzeo Wireless Technologies Inc, sedangkan Hariff dengan Wavesar. Duet ini dibutuhkan karena masih ada beberapa komponen elektronik yang tidak tersedia di Indonesia.

Menurut Sakti Wahyu Trenggono, Direktur PT TRG, desain chipset mereka harus dibuat di Kanada. Desain printed circuit board (PCB) juga masih harus dibuat di Taiwan. Sebab di Indonesia belum ada perusahaan yang bisa membuat PCB enam lapis sesuai dengan desain TRG. Komponen lain sudah bisa diproduksi di Batam dan Bandung.

Hasilnya, kandungan lokal TRG dan Hariff memenuhi persyaratan TKDN. Hasil diaudit PT Surveyor Indonesia menunjukkan, kandungan lokal Himax mencapai 67,47% untuk BS dan 36,16% untuk CPE.
Selain memenuhi syarat TKDN, PT TRG-anak usaha PT Solusindo Kreasi Pratama (Indonesian Tower)-juga mengklaim bisa memasok 1,5 juta unit peranti WiMAX setiap tahun. Perangkat ini terdiri dari BS, CPE, dan access manager untuk pengelolaan BS dan lalu lintas data. Ditambah dengan billing server, yaitu sistem pendataan jumlah pemakaian serta informasi tagihan dan EMS Server, sistem manajemen operasional menjadi jantung operasional WiMAX.

Untuk memasok peranti-peranti itu, TRG dan Hariff masing-masing menginvestasikan puluhan milyar rupiah. Untuk membuat prototipe saja, biayanya mencapai Rp 10 milyar. Apalagi bila biaya produksi dihitung.

Meski masih mengusung standar nomadic, keduanya pede soal kualitas produknya. Keyakinan ini makin menguat setelah keberhasilan mereka melakukan uji coba dengan berbagai operator telepon seluler, seperti PT Telkom dan PT Indosat (melalui Indosat Mega Media-IM2).

Menurut executive General Manager Telkom Divisi Regional 1 Sumatera, Muhammad Awaluddin, kecepatan akses WiMAX ketika diuji coba di Sumatera mencapai 20 mbps, dengan daya jangkau sampai 20 kilometer. Berbekal uji coba ini, Telkom berencana menyelimuti seluruh Sumatera dengan jarigan WiMAX. Jika sukses mendapat lisensi WiMAX, mereka akan membangun 40 node (setara dengan 139 BS) WiMAX.

***

Sekjen Masyaralat Telematika Indonesia, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, menegaskan bahwa kemampuan yang ditunjukkan para pemain WiMAX lokal rupanya membuat pabrikanasing keder. Sebab ini berarti, Indonesia tak lagi bisa dijadikan sebagai mesin penghasil keuntungan besar. "Tentu mereka tak mudah menyerah. Berbagai langkah dilakukan, dari membangun usaha kemitraan dengan pengusaha lokal hingga memakai lobi-lobi politik ke birokrat, politisi, dan LSM," kata Mas Wig, panggilan akrab Wigrantoro.

Salah satu pengusung usul kemitraan ini adalah Intel, yang merupakan penggerak WiMAX Forum. Menurut Werner, Intel menawarkan kolaborasi industri global pembuat 802.16e dengan pengembang lokal. Tujuannya, mengurangi kurva belajar, lebih cepat dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, dan harga yang bersaing. "Kami ingin menjadi mak comblang antara industri lokal dan global, serta membuat manufaktur lokal bisa sustainable," ujar Werner.

Keinginan vendor asing itu memang layak diapresiasi. Tapi jangan sampai melenakan pemerintah dalam usaha membangun kemandirian teknologi dari asing.

Antara WiMAX dan LTE

Bagi pengguna Internet, istilah pita lebar atau broadband bukanlah suatu hal yang asing. Jika diartikan secara sederhana, broadband diibaratkan pipa yang lebar untuk koneksi Internet, sehingga memberikan akses yang jauh lebih cepat hingga 10-20 kali lipat dibandingkan modem dial-up yang hanya mampu menghantarkan kecepatan di kisaran 30 hingga 50 kilobit per second (Kbps).

Bagi pengguna Internet, istilah pita lebar atau broadband bukanlah suatu hal yang asing. Jika diartikan secara sederhana, broadband diibaratkan pipa yang lebar untuk koneksi Internet, sehingga memberikan akses yang jauh lebih cepat hingga 10-20 kali lipat dibandingkan modem dial-up yang hanya mampu menghantarkan kecepatan di kisaran 30 hingga 50 kilobit per second (Kbps).Karena kecepatan yang ditawarkannya sangat tinggi, maka layanan broadband mampu menghadirkan aplikasi multimedia seperti aplikasi video dan music-on-demand, multi-player online games, voice, dan video communications dengan nyaman.

Di Indonesia, tanda-tanda masuknya broadband mulai terlihat dengan diperkenalkannya teknologi 3G tiga tahun lalu. Evolusi dari teknologi data milik GSM tersebut mampu menghantarkan data hingga 2 Mbps.Namun, teknologi terus berkembang. Ketika 3G baru diluncurkan, para praktisi mulai sibuk membicarakan keberadaan Worldwide Interoperability for Microwave Acces (Wimax) yang lebih baik menghantarkan data ketimbang 3G.

Wimax secara sederhana dikatakan teknologi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita lebar layaknya Wi-Fi namun dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi lebih cepat yakni mencapai 75 Mbps.Tak mau ketinggalan, teknologi seluler pun meluncurkan Long Term Evolution (LTE). LTE adalah siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler dengan standar IEEE 802.20 yang diproyeksikan menemukan momentumnya pada 2010 nanti.

Dalam uji coba operator seluler terbesar di Jepang, NTT DoCoMo, pada Februari 2008, terungkap bahwa kecepatan downlink LTE bisa mencapai 250 Mbps sementara uplink berkisar 50 Mbps.Di luar negeri diperkirakan LTE tidak akan dikomersialkan akhir tahun ini. LTE banyak dipergunakan operator untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data.

Hal ini karena dari aspek ketersediaan spektrum, LTE dapat digunakan pada alokasi yang tersedia.AnomaliPemerintah telah menetapkan pada bulan depan tender Broadband Wireless Access (BWA) akan dibuka.Untuk tahap awal akan terdapat 100 MHz pita frekuensi yang akan ditender di pita 2,3 GHz dan 3,3 GHz. Bakrie Telecom, Indosat, dan Telkom telah menunjukkan minatnya untuk ikut dalam tender tersebut.Jika dilihat sekilas, pemerintah lebih memberikan jalan eksklusif bagi Wimax. Hal ini karena industri manufaktur dalam negeri bisa menjadi pemain dominan di teknologi tersebut.

Saat ini, pemain lokal yang mampu menopang teknologi Wimax adalah TRG, Hariff, dan Xirka.Sayangnya, bagi sebagian praktisi kebijakan pemerintah dalam mengembangkan teknologi Wimax banyak terjadi anomali. Pemerintah lebih memlih mengembangkan standar 802.16d ketimbang 802.16e.

Sumber: www.koran-jakarta.com

24 August 2008

American Airlines Officially Rolls Out In-flight WiFi


Passengers on some American Airlines flights will be able to use WiFi

American Airlines today became the first airline to offer onboard WiFi service for its fliers. As expected from previous reports, the Aircell Gogo service will be available for passengers willing to pay the $12.95 surcharge for flights that are more than three hours in length.

Nonstop flights on Boeing 767-200 aircraft flying between New York and Los Angeles, New York and San Francisco, and New York and Miami will have the new WiFi service. American Airlines planned on launching the WiFi service on the 15 Boeing aircraft last month, but it was delayed because the system had to be modified.

Each Boeing plane is connected to the WiFi network via ground-based systems

Talking on cell phones is still prohibited and VoIP has been disabled for all flights, Aircell previously stated.

Aircell will charge $9.95 for all flights three hours or less, and its pricing outline is for all airlines that use its service.

The service will be available on more flights after an initial testing phase of three to six months.

Delta Air Lines confirmed it will begin testing a WiFi service in the fall, with Alaska Airlines, Jet Blue, Southwest Airlines and Virgin America also have in-air WiFi tests in the works. Delta will use Gogo for its first class and economy passengers starting sometime in 2009, on at least 330 Delta aircraft. Several airline companies in Europe and Asia have been testing WiFi and cellular phone use while in flight, with varying results thus far.
through an air-to-ground network. The planes receive signals from cell towers already in use, which makes the service cheaper for the fliers. Passengers must wait until the plane reaches 10,000 feet in elevation before signing up for the service.

Source: www.dailytech.com