Showing posts with label Network. Show all posts
Showing posts with label Network. Show all posts

21 November 2009

300 Hacker Asia Tenggara 'Serbu' Jakarta


Jakarta - Jakarta akan jadi sorotan bagi para peretas jaringan komputer alias hacker, khususnya 300 hacker yang berasal dari negara-negara di Asia Tenggara. Mau apa mereka?

Jangan salah sangka dulu.
Hacker-hacker ini datang ke Jakarta bukan untuk membongkar sistim jaringan komputer di Indonesia, namun untuk menghadiri ajang Open Hack Day yang digelar Yahoo!. Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang jadi dipilih Yahoo! untuk menggelar ajang bergengsi bagi para hacker mancanegara tersebut.

"Ada lebih dari 300 hacker yang telah terdaftar di Open Hack Day, dengan sebagian partisipan berasal dari beberapa negara di ASEAN," tukas Michael Smith Jr, head of Yahoo! Developer Network, Southeast Asia, dalam jumpa pers di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (21/11/2009).

Open Hack Day sendiri akan berlangsung selama dua hari terhitung mulai hari Sabtu ini hingga Minggu (22/11/2009) di tempat konperensi berlangsung, ballroom Balai Kartini, Jakarta. Perlu diketahui, Open Hack Day merupakan acara rutin yang diselenggarakan oleh Yahoo! untuk meningkatkan performa layanan mereka. Dalam acara ini, Yahoo! berupaya mengumpulkan beberapa programmer terutama web developer agar dapat mengembangkan beragam aplikasi berdasarkan platform Yahoo!.

Sumber:
Detik

13 November 2009

First Media Yakin Wimax Dongkrak Revenue 2010

JAKARTA - Setelah memenangkan tender Wimax, First Media yakin layanan tersebut mampu mendongkrak revenue perusahaan pada tahun 2010 nanti.
"Revenue hingga September 2009 ini mencapai Rp530 miliar. Tahun 2010 kami yakin akan naik signifikan. Bahkan dua kali lipat menjadi Rp1,5 triliun karena ada dukungan teknologi wimax," ujar Chief Financial Officer Irwan Djaja usai RUPSLB di Hotel Crown Plaza, Jakarta, Jumat (13/11/2009).

Hal ini, lanjut Irwan, dikarenakan pada akhir tahun ini pihaknya akan meluncurkan layanan internet supercepat, yaitu Fastnet dengan performa 10 Mbps.

"Ini layanan internet yang sangat cepat dibanding yang ditawarkan perusahaan lain, kolaborasi Fastnet dan Wimax. Ini akan dapat meningkatkan revenue," katanya.

Ditambahkan Sekretaris First Media Harianda Noerlan, untuk ekspansi teknologi ini, First Media saat ini sedang melakukan penjajakan untuk memperoleh pendanaan sebesar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun.

"Ini merupakan teknologi baru sehingga kami masih harus mencari distributor dan supplier alat-alat untuk infrastruktur Wimax," ujar Harianda.

Akhir tahun ini, perusahaan pun berencana akan membangun base transceiver station (BTS) sebanyak 10 unit untuk tahap awal di Jabodetabek. Sehingga diharapkan, dalam dua sampai tiga tahun ke depan, First Media bisa memenuhi target kebijakan dari pemerintah yang mengharuskan raihan lebih dari 1 juta pelanggan.

"Akhir tahun kita mau launching 10 BTS di Jabodetabek, entah dibangun, bisa juga kita sewa. Setelah itu, ekspansi lanjut ke Banten dan Sumatera Utara," jelasnya. (srn)

Sumber: Okezone.com

Share/Bookmark

12 November 2009

Wimax : Teknologi yang Menjanjikan untuk Pengembangan Aplikasi Mobile di Indonesia


Wimax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) adalah sebuah teknologi nirkabel yang didesain agar mampu menyediakan data dengan kecepatan tinggi bahkan pada komunikasi antar-tempat yang dipisahkan oleh jarak yang jauh. Apa kelebihan Wimax? Apabila kita lihat teknologi yang digunakan untuk mengakses internet saat ini seperti koneksi kabel broadband, Wifi, dan bahkan dial-up semuanya memiliki permasalahan masing-masing. Akses internet dengan menggunakan broadband biasanya mahal dan tentu saja sangat jarang tersedia di daerah pinggiran kota apalagi di daerah pedesaan. Wifi memiliki cakupan sinyal yang sangat terbatas dan dial-up memiliki kecepatan transfer data yang rendah.


Wimax sendiri memang didesain untuk mengatasi permasalahan tersebut. Wimax mampu memberikan layanan data pada ratusan pengguna dalam radius 40-50km untuk fixed terminal dan 5-25 km untuk terminal yang bersifat mobile. Pengguna tersebut akan meng-share sinyal dan kanal transmisi data dengan kecepatan transfer data sampai 70Mbps. Dengan kecepatan transfer data yang tinggi dan nirkabel, biaya pemasangan Wimax akan menjadi lebih murah dibandingkan dengan teknologi lain yang memerlukan pemasangan fiber optik. Meskipun demikian alternatif teknologi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada gambar di atas dapat dilihat perbandingan beberapa teknologi dilihat dari sisi kecepatan dan mobilitas.


Standar Wimax didesain sehingga memberikan framework yang sama untuk koneksi nirkabel dalam lingkungan yang fixed, portable atau mobile. Pada aplikasi mobile, pengguna Wimax menggunakan terminal seperti saat menggunakan Wifi. Jadi bisa menggunakan peralatan seperti notebook, PDA, dan telepon seluler. Pemanfaatan Wimax sama dengan pemanfaatan Wifi. Sebuah terminal dapat mendeteksi jaringan Wimax dan Wifi sehingga pengguna bisa memilih untuk menggunakan jaringan Wimax atau Wifi. Saat ini, sudah bermunculan produk notebook dan telepon seluler yang mendukung Wimax misalnya Nokia 810 dan Samsung SPH-P9000.


Oleh Krisantus Sembiring

Sumber: jakarta.wartaegov.com


Share/Bookmark

08 August 2009

Who was Noordin M Top ?


Noordin Mohammed Top, who is widely reported to have been killed in a shootout with police in Indonesia's Central Java region, was one of Asia's most wanted men.


The Malaysian national was believed to have been a key figure in Jemaah Islamiyah,
which is fighting for for an Islamic state in southeast Asia, acting as a recruiter, strategist and financier for the group.


Noordin split from the group in 2003 and set up Tanzim Qaedat al-Jihad - or Organisation for the Base of Jihad - amid apparent differences over his policy of targeting civilians.


Indonesian security forces stepped up their hunt for the former accountant and maths teacher after he was identified as the principle suspect in twin hotel bombings that killed nine people in Jakarta, the Indonesia capital, in July.




After the attacks a message, purportedly from a group claiming to be "Al-Qaeda in Indonesia" and apparently signed by Noordin, claimed to have carried out the attacks.


Noordin had previously claimed to be al-Qaeda's representative in southeast Asia.

'Money man'


The 40-year-old Noordin was born in Johor, southern Malaysia, and completed a bachelor of science at the University of Technology, Malaysia in 1991.


In 2001, he fled to Indonesia with Azahari Husin, a Jemaah Islamiyah bombmaker, after the government in Kuala Lumpur launched a crackdown on Islamist fighters.


Intelligence officials say that on arriving in the country they began to recruit young Indonesians, some of them from Islamic boarding schools, for attacks they were planning to carry out.


Local newspapers decribed Noordin as the "Money Man" and Azahari as the "Demolition Man".


The two men were accused of planning the attacks on the JW Marriot hotel in Jakarta in 2003, which killed 12 people, the 2004 bombing on the Australian embassy, which killed at least nine, and the Bali bombings in 2005, which left more than 200 dead.


Indonesian troops from the elite Detachment 88 - the same force that apparently eventually tracked down Noordin - cornered Azahari, an engineer and former university lecturer, at a house in East Java in November 2005.


The father of two was killed, either by a police bullet or by a bomb set off by an accomplice.


Close network


However, Noordin remained at large, leading some Javanese to suggest that he must have magical powers or charms that protected him.


In 2006, he narrowly escaped a raid in Central Java in which two other fighters were killed.


Then shortly after July's attack in Jakarta, a woman believed to be Noordin's wife was arrested.


She told police that she thought her husband was a kind man who spent long periods away on business as the publicity agent for an Islamic school.


Police put his ability to remain elusive down to his reluctance to use mobile phones and his ability to rely on a close network of sympathisers who would act as couriers and keep his location secret.


Ken Conboy, a security consultant at Risk Management Advisory and author of several books on Indonesian security issues, said that Noordin's ability to recruit suicide bombers was key to his cell's success.


"He was able to get these usually village boys and convince them often in just matter of days to give their lives," he said.


"Now that he's gone out of that role, that's a big blow to what's left of that organisation ... now they're going to connect the dots and get everybody that was part of the network."

source: english.aljazeera.net

30 May 2009

Uji Seksi WiMax Lokal

Gatra, edisi 20 Mei 2009
Oleh Astari Yanuarti

Layanan telekomunikasi berbasis WiMAX segera menyapa seluruh Nusantara. Vendor WiMAX lokal sudah unjuk gigi. Harga layanan terjangkau jika biaya lelang spektrum WiMAX lebih murah dari 3G.

Rentetan Hujatan dan keraguan tak sanggup memupus keseksian WiMAX (Worldwide interoperability for Microsoft Access). Buktinya, lelang layanan akses pita lebar nirkabel yang dibuka pada akhir bulan lalu kebanjiran peminat. Tercatat 73 pelamar yang mengambil dokumen seleksi.

Mereka berasal dari berbagai jenis usaha dalam bidang telekomunikasi. Ada sederet operator yang sudah beken, seperti PT Telkom, PT Indosat, Bakrie Telecom, dan Smart. Disusul dari kalangan penyedia jasa internet, seperti Dyviacom Intrabumi, Centrin Online, dan Lintas Artha. Juga tak ketinggalan dari penyedia jasa layanan TV berbayar, seperti PT Broadband Multimedia.



Mereka akan bersaing meraih lisensi WiMAX dengan pita frekuensi 2,3 GHz di 15 wilayah (lihat: Zonasi Layanan Pita Lebar Nirkabel 2,3 GHz). Masing-masing zona menyediakan 30 kanal MHz, yang terbagi menjadi dua blok masing-masing 15 MHz. Bila sesuai dengan jadwal, proses lelang akan berakhir 17 Juni 2009 dengan penetapan pemenang di tiap wilayah.

Antusiasme pelamar ini tergolong mengejutkan. Maklum, sejak awal tahun ini, serangan bertubi bersarang ke Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) terkait kebijakan lelang layanan akses pita lebar nirkabel (broadband wireless access –BWA).

Setelah melalui proses panjang selama tiga tahun, akhirnya Menteri Kominfo, Muhammad Nuh, mengesahkan empat peraturan terkait dengan penataan pita radio dan lelang BWA. Dua beleid yang keluar pada Januari lalu memutuskan beberapa hal penting terkait dengan lelang BWA.

Antara lain menetapkan pita frekuensi 2,3 GHz sampai 2,4 GHz selebar 90 MHz sebagai kanal jaringan tetap lokal berbasis radio yang memakai BWA dengan moda TDD (time division duplex). Lebar kanal ini terbagi menjadi 12 blok dengan masing-masing 5 MHz, dua blok masing-masing 15 MHz, dan satu blok 10 MHz. Pemerintah juga memutuskan, lelang operator BWA tahao pertama hanya untuk teknologi WiMAX berstandar 802.16d. Standar ini dikenal dengan istilah fixed and nomadic WiMAX.

Selain itum tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk peranti BWA 2.3 GHz ditetapkan minimal 30% untuk subscriber station (SS) atau customer premise equipment (CPE), yaitu peranti penerima yang dipegang konsumen, dan 40% untuk base station (BS/stasiun pemancar). Secara bertahap, TKDN harus naik menjadi sekurang-kurangnya 50% dalam waktu lima tahun.

Kewajiban TKDN adalah wujud keinginan pemerintah menghidupkan industri manufaktur telekomunikasi Indonesia. Selama ini, Indonesia hanya menjadi pasar produk-produk telekomunikasi asing. Setiap tahun, sekitar 99% dari belanja modal operator telekomunikasi mengalir ke luar. Nilai belanja modal tahun lalu saja mencapai RP 44 trilyun.

Nah, poin inilah yang mendapat kritik pedas Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI). Menurut salah satu penggiat FKBWI, Wahyu Haryadi, niat baik pemerintah itu belum didukung dengan kesiapan industri dalam negeri. Sebab belum ada vendor peranti WiMAX lokal yang memenuhi standar WiMAX Forum dan memenuhi harapan operator BWA.

Pemakaian standar 802.16d di pita 2,3 GHz oleh vendor WiMAX lokl tak sesuai dengan roadmap WiMAX Forum. Sebab pita 2,3 GHz dan 2,5 GHz diperuntukkan bagi standar mobile WiMAX 802.16e. Wahyu pun menyinggung tentang kapasitas BS vendor lokal yang hanya sanggup menampung 10 CPE. “Kapasitas maksimum ini sangat tidak memenuhgi ekspektasi operator BWA. Belum lagi kestabilan perangkat yang belum teruji di lapangan,” kata Wahyu.

Ia menilai, pemilihan standar yang tak sesuai dengan WiMAX Forum membuat harga peranti tak kompetitif. Misalnya, CPE WiMAX lokal dibanderol Rp 3 juta per unit. Harga setinggi ini akan menyulitkan operator layanan WiMAX memberikan harga murah kepada Pelanggan.


WiMAX sebagai layanan keempat telekomunikasi (4G) memang digadang-gadang menjadi sarana untuk memperluas jangkauan telepon dan internet di Indonesia. Teknologi nirkabel pita lebar berbasis protokol internet berkecepatan tinggi ini sanggup menerima data hingga 50 megabyte per detik (mbps). Jauh lebih cepat dari layanan internet berbasis layanan selular generasi ketiga (3G) yang hanya sekitar 2,4 mbps.

Kecepatan seperti ini membuat beragam aktivitas multimedia, seperti menonton dan mengunduh film, multi-player online games, video conference, dan browsing internet bisa dilakukan secara bersamaan dengan nyaman.

Managing Director Southeast Asia WiMAX Program Officer Intel Corp, Werner Susanto, menyebutkan bahwa standardisasi WiMAX profile 1B (pita 2,3 GHz dengan saluran 5 MHz/10MHz) paling diminati negara-negara Asia. Antara lain Singapura, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Filipina, dan Bangladesh. Profil 1B didukung penuh para vendor jaringan seperti Alcatel Lucent, Motorola, Samsung, dan Cisco.

Dukungan juga datang dari produsen ODM (original design manufacturer) penghasil CPE dan USB dongle. Alhasil, 1B makin cepat mencapai skala ekonomi sehingga mendorong penurunan harga CPE. Dalam setahun, harga CPE per unit turun US$ 160 menjadi US$ 80. Sampai Maret lalu, harganya telah menyentuh US$ 60. Skala ekonomi ini tak bisa dinikmati Indonesia bila tetap memilih standar 802.16d di frekuensi 2,3 GHz.

Namun keterjangkauan harga layanan WiMAX juga ditentukan oleh harga frekuensi BWA yang dipatok pemerintah. Agar terjangkau, harga spektrym hrus lebih murah daripada spektrum 3G senilai Rp 160 milyar per 5 MHz untuk lisensi nasional. FKBWI mengusulkan, lelang pita BWA hanya sepersepuluh dari harga frekuensi 3G, yaitu sekitar Rp 250 juta per 1 MHz.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, Gatot S. Dewa Broto, menjamin bahwa harga lelang BWA tidak akan semahal 3G. Ia memang belum bisa menyebutkan berapa nilai dasar yang dipakai pemerintah. Sebab nilai itu baru muncul setelah babak prakualifikasi selesai, awal Juli nanti. "Sebagai perbandingan, biaya hak penyelenggaraan frekuensi BWA selama ini sudah berbeda dari 3G," katanya.


Gatot menambahkan, keputusan pemerintah dalam pemilihan standar teknologi BWA, frekuensi, dan TKDN diambil secara proporsional. Menurut Gatot, jika keinginan stakeholder yang semuanya dikuasai vendor asing diikuti, industri dalam negeri tak akan pernah punya peluang hidup.
Gatot mengakui, standar 802.16e lebih baik dan telah dipakai oleh 16 negara. Apalagi, standar ini bisa bermigrasi dengan mulus ke 802.16m yang punya kecepatan akses data lebih tinggi dan mobile. Namun vendor lokal yang sudah berinvestasi puluhan milyar rupiah baru sanggup membuat peranti berstandar 802.16d.

***

Para produsen tentu butuh waktu untuk mencapai titik impas. Jika pemerintah memilih standar 802.16e yang semua perantinya masih dikuasai vendor asing, vendor lokal WiMAX akan mati. "Selain perlindungan industri dalam negeri, kami juga menilai, standar nomadic sangat tepat untuk pasar Indonesia yang sebagian besar rural dan penetrasi akses datanya belum tinggi," ujarnya.

Standar 802.16e yang mobile lebih tepat dipakai masyarakat perkotaan yang mobilitasnya tinggi. Lagi pula, anggapan bahwa skala ekonomi sulit tercapai tak sepenuhnya tepat. Sebab pasar layanan internet pita lebar di Indonesia masih sangat besar. Penetrasi pemakai layanan pita lebar baru mencapai 0,2% dari 235 juta penduduk Indonesia.

Tak mengherankan bila selama ini Indonesia selalu menjadi incaran vendor-vendor teknologi asing. Dan hasilnya, dunia telekomunikasi kita didominasi asing. Pemerintrah secara perlahan ingin mengubah peta ini. Dimulai dengan persyaratan kandungan lokal pada pelaksanaan layanan 3G.

Lalu disambung dengan ketentuan TKDN untuk peranti WiMAX. Sampai kini, ada dua produsen BS dan CPE WiMAX dalam negeri yang memenuhi sertifikasi TKDN dari Departemen Perindustrian. Keduanya adalah PT. Teknologi Riset Global (TRG) yang mengusung merek TRG WiMAX dan PT. Hariff Daya Tunggal dengan produk Himax.

Selain itu, ada satu perusahaan lokal yang sanggup membuat chipset WiMAX bernama Xirca. Chipset ini hasil kreasi tim dari Institut Teknologi Bandung yang kemudian dibeli Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Sylvia Sumarlin, untuk diproduksi secara komersial. Xirca-lah yang memasok chipset bagi dua vendor jaringan WiMAX lokal itu.

Untuk membangun peranti WiMAX, TRG dan Hariff sama-sama menggandeng mitra dari Kanada. TRG dengan Tranzeo Wireless Technologies Inc, sedangkan Hariff dengan Wavesar. Duet ini dibutuhkan karena masih ada beberapa komponen elektronik yang tidak tersedia di Indonesia.

Menurut Sakti Wahyu Trenggono, Direktur PT TRG, desain chipset mereka harus dibuat di Kanada. Desain printed circuit board (PCB) juga masih harus dibuat di Taiwan. Sebab di Indonesia belum ada perusahaan yang bisa membuat PCB enam lapis sesuai dengan desain TRG. Komponen lain sudah bisa diproduksi di Batam dan Bandung.

Hasilnya, kandungan lokal TRG dan Hariff memenuhi persyaratan TKDN. Hasil diaudit PT Surveyor Indonesia menunjukkan, kandungan lokal Himax mencapai 67,47% untuk BS dan 36,16% untuk CPE.
Selain memenuhi syarat TKDN, PT TRG-anak usaha PT Solusindo Kreasi Pratama (Indonesian Tower)-juga mengklaim bisa memasok 1,5 juta unit peranti WiMAX setiap tahun. Perangkat ini terdiri dari BS, CPE, dan access manager untuk pengelolaan BS dan lalu lintas data. Ditambah dengan billing server, yaitu sistem pendataan jumlah pemakaian serta informasi tagihan dan EMS Server, sistem manajemen operasional menjadi jantung operasional WiMAX.

Untuk memasok peranti-peranti itu, TRG dan Hariff masing-masing menginvestasikan puluhan milyar rupiah. Untuk membuat prototipe saja, biayanya mencapai Rp 10 milyar. Apalagi bila biaya produksi dihitung.

Meski masih mengusung standar nomadic, keduanya pede soal kualitas produknya. Keyakinan ini makin menguat setelah keberhasilan mereka melakukan uji coba dengan berbagai operator telepon seluler, seperti PT Telkom dan PT Indosat (melalui Indosat Mega Media-IM2).

Menurut executive General Manager Telkom Divisi Regional 1 Sumatera, Muhammad Awaluddin, kecepatan akses WiMAX ketika diuji coba di Sumatera mencapai 20 mbps, dengan daya jangkau sampai 20 kilometer. Berbekal uji coba ini, Telkom berencana menyelimuti seluruh Sumatera dengan jarigan WiMAX. Jika sukses mendapat lisensi WiMAX, mereka akan membangun 40 node (setara dengan 139 BS) WiMAX.

***

Sekjen Masyaralat Telematika Indonesia, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, menegaskan bahwa kemampuan yang ditunjukkan para pemain WiMAX lokal rupanya membuat pabrikanasing keder. Sebab ini berarti, Indonesia tak lagi bisa dijadikan sebagai mesin penghasil keuntungan besar. "Tentu mereka tak mudah menyerah. Berbagai langkah dilakukan, dari membangun usaha kemitraan dengan pengusaha lokal hingga memakai lobi-lobi politik ke birokrat, politisi, dan LSM," kata Mas Wig, panggilan akrab Wigrantoro.

Salah satu pengusung usul kemitraan ini adalah Intel, yang merupakan penggerak WiMAX Forum. Menurut Werner, Intel menawarkan kolaborasi industri global pembuat 802.16e dengan pengembang lokal. Tujuannya, mengurangi kurva belajar, lebih cepat dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, dan harga yang bersaing. "Kami ingin menjadi mak comblang antara industri lokal dan global, serta membuat manufaktur lokal bisa sustainable," ujar Werner.

Keinginan vendor asing itu memang layak diapresiasi. Tapi jangan sampai melenakan pemerintah dalam usaha membangun kemandirian teknologi dari asing.