Showing posts with label Telkomsel. Show all posts
Showing posts with label Telkomsel. Show all posts

30 January 2010

Sejarah Telekomunikasi Selular di Indonesia

Sejarah Selular di Indonesia

Kamis,27 Sep 2001

Kompas

Negara-negara maju di Eropa menerapkan teknologi seluler untuk komunikasi pada dekade 70-an, dan Indonesia baru memanfaatkan kecanggihan komunikasi tersebut belasan tahun kemudian.

Dibawah ini dipaparkan tonggak-tonggak sejarah komunikasi seluler di negeri ini.


1984:
Teknologi seluler masuk ke Indonesia untuk pertama kali di tahun ini dengan berbasis teknologi Nordic Mobile Telephone (NMT).


1985-1992:
Dalam periode ini ponsel yang beredar di Indonesia tidak bisa dimasukkan ke saku baju atau celana karena bentuknya besar dan panjang, dengan rata-rata 430 gram (hampir setengah kg). Harga ponselnya tidak murah dan rata-rata diatas Rp 10 juta per unit.
Saat ini baru dikenal dua teknologi seluler yakni NMT-470-modifikasi NMT-450-dioperasikan PT Rajasa Hazanah Perkasa. Sedangkan sistem Advance Mobile System (AMPS) ditangani empat operator yakni PT Elektrindo Nusantara, PT Centralindo, PT Panca Sakti, dan Telekomindo.

1993:
Diakhir tahun ini, PT Telkom memulai proyek percontohan seluler digital Global System for Mobile (GSM) di Pulau Batam dan Pulau Bintan.


1994:
PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) beroperasi sebagai operator GSM pertama di Indonesia dengan mengawali kegiatan bisnisnya di Jakarta dan sekitarnya. Saat itu terjadi perubahan besar pada perilaku konsumen dapat bergonta-ganti ponsel dengan nomor yang sama, karena GSM menggunakan kartu SIM.Teknologinya aman dari penggandaan dan penyadapan serta mutu prima dan jangkauan luas. Terminal ponselnya tidak lagi sebesar 'pemukul kasti' dan dapat dikantongi dengan berat maksimal saat itu 500 gram dan harga ponselnya lebih terjangkau.


1995:
Proyek Telkom di Batam berlangsung sukses dan dilanjutkan ke Provinsi-provinsi di Sumatera yang mengantar pada pendirian Telkomsel pada 26 Mei 1995 sebagai operator GSM nasional bersama Satelindo.


1996:
Telkomsel dengan produk unggulan Kartu Halo Sukses di Medan, Serabaya, Bandung, dan Denpasar kemudian masuk ke Jakarta. Pemerintah mendukung pengembangan bisnis ini dengan menghapus pajak bea masuk bagi terminal ponsel sehinggal harganya menjadi lebih murah minimal Rp 1 juta per unit. Telkomsel juga membuat gebrakan dengan cakupan nasional dan Ambon (Maluku) tercatat pada 29 Desember 1996 sebagai provinsi ke-27 yang dilayani Telkomsel. Di penghujung tahun ini pula PT Excelcomindo Pratama (Excelcom) Berbasis GSM beroperasi di Jakarta sebaga operator nasional ketiga GSM di Indonesia.


1997:
Pemerintah mengeluarkan lisensi baru bagi operator seluler berbasis teknologi PHS dan GSM 1800 kepada 10 operator baru yang memberikan lisensi regional. Namun proyek tersebut urung dilaksanakan karena negeri ini dihantam krisis moneter. Di tahun ini pula Telkomsel memperkenalkan kartu prabayar (prepaid) GSM pertama di Indonesia yang dinamai Simpati sebagai alternatif dari kartu Halo.


1998:
Excelcom meluncurkan kartu prabayar Pro-XL yang memberi alternatif bagi konsumen untuk memilih dengan layanan unggulan roaming. Satelindo menyusul Telkomsel dan Excelcom dengan meluncurkan kartu prabayar Mentari, dengan keunggulan tarif dihitung perdetik sehingga dalam waktu singkat menjaring lebih 100.000 pelanggan. Jatuhnya Presiden Soeharto dan gerakan reformasi mengimbas pada dicabutnya lisensi PHS dan GSm 1800 bagi Indophone dan Cellnas karena sahamnya dimiliki keluarga Cendana dan kroninya.


1999:
Krisis moneter tidak menyurutkan minat masyarakat untuk menjadi konsumen seluler. Hingga akhir tahun ini diseluruh Indonesia terdapat 2,5 juta pelanggan dan sebagian besar adalah adalah pengguna prabayar Simpati, Mentari dan Pro-XL. Mereka memilih prabayar karena tidak ingin dibebani prosedur administrasi dan dapat mengendalikan pemakaian pulsa dan kalau habis dapat diisi ulang.


2000:
layanan pesan singkat (short message service) menjadi fenomena dikalangan pengguna ponsel. Praktis dan biaya murah.Di tahun ini pula PT Indosat dan PT Telkom mendapat lisensi sebagai operator GSM 1800 nasional sesuai amanat UU Telekomunikasi No 36/1999. Layanan seluler kedua BUMN itu direncanakan akan beroperasi secara bersamaan pada 1 Agustus 2001.

Sumber:
http://berehel.blogspot.com/2008/07/sejarah-selular-di-indonesia.html

Share/Bookmark

12 November 2009

Pasar mobile broadband mengerucut


Oleh Fita Indah Maulani, Bisnis Indonesia

JAKARTA: Persaingan pasar mobile broadband (akses Internet seluler berbasis modem) di tiga besar operator telekomunikasi kini mulai mengerucut, karena PT Exelcomindo Pratama Tbk (XL) tidak melakukan ekspansi pasar.

XL menahan ekspansi penjualan mobile broadband sebagai salah satu pendapatan dari layanan data karena keterbatasan kapasitas layanan, ketika tidak mendapatkan tambahan alokasi frekuensi 3G.

Sebaliknya, PT Telkomsel dan PT Indosat berencana mendorong pertumbuhan pelanggan menyusul diperolehnya tambahan alokasi frekuensi 3G sebesar 5 MHz.

Hasnul Suhaimi, Dirut PT Exelcomindo Pratama Tbk (XL), mengatakan pihaknya merasa jumlah pengguna mobile broadband XL saat ini sudah sesuai dengan kapasitas layanan sehingga untuk sementara tidak agresif dahulu dengan layanan tersebut.

“Karena kami memutuskan tidak menambah frekuensi tahun ini, maka fokus sekarang menjaga kualitas layanan. Jika penjualan ditingkatkan tetapi kualitas layanan menurun juga tidak baik,” ujarnya kepada Bisnis pekan lalu.

Dari ketiga operator telekomunikasi terbesar saat ini, hanya XL yang memutuskan tidak mengambil tambahan frekuensi 3G sebesar 5 MHz yang ditawarkan pemerintah beberapa waktu lalu.

Telkomsel dan Indosat mengambil tambahan tersebut dengan tujuan akan mereka gunakan untuk meningkatkan kualitas layanan Internet berbasis mobile broadband atau jaringan seluler pita lebar.

“Kami baru akan menambah frekuensi 3G tahun depan, bukan tahun ini,” ujar Hasnul.

Pendapatan XL dari layanan data saat ini baru menyumbang 4% kepada total pendapatan perusahaan.

Hal itu sangat kontras dengan layanan data di operator dari Telkomsel dan Indosat, yang rata-rata menyumbang 15% terhadap total pendapatan perusahaan.

Dia mengatakan pihaknya kini memilih meningkatkan penjualan produk bundling seperti BlackBerry dan ponsel China rasa Berry seperti Nexian. Kedua operator lainnya juga melakukan pemasaran agresif di pasar ini.

Pelanggan melonjak

Pelanggan seluler diperkirakan melonjak hingga 150 juta pada tahun depan, dengan jumlah pengguna mobile broadband mencapai 6 juta. Mereka rata-rata memanfaatkan kemudahan akses Internet di mana saja menggunakan modem paket berbayar tertentu.

President Director & CEO Indosat Harry Sasongko mengatakan tambahan frekuensi 3G akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas layanan 3G kepada pelanggan serta menjawab kebutuhan pasar broadband yang terus tumbuh secara signifikan.

Hingga saat ini layanan 3,5 G Indosat telah dapat dinikmati 26 kota yaitu Jabodetabek, Banda Aceh, Medan, Batam, Palembang, Bandung, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Cilacap, Cepu, Salatiga, Kudus, Jepara, Magelang, Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Denpasar, Balikpapan, Samarinda, Banjarmasin, dan Makassar.

Indosat tidak bergerak sendirian dalam merebut pasar mobile broadband. PT Indosat Mega Media (IM2) sebagai anak perusahaan juga sangat agresif meraih pasar.

Share/Bookmark