Showing posts with label POLRI. Show all posts
Showing posts with label POLRI. Show all posts

31 October 2009

Kisah Bibit dan Chandra (I)


Dua pimpinan KPK itu kini tinggal di Blok A. Ini bukan alamat rumah. Tapi alamat kamar tahanan di Markas Brimob, Kelapa Dua, Depok. Rumah tahanan itu banyak menyimpan terpidana korupsi. Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah tinggal di kamar yang berbeda.

Sesudah keduanya digiring ke ruang tahanan, kasus ini tampaknya mengelinding cepat. Kian mendidih pula. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengecam, para mahasiswa unjuk rasa di Mabes Polri, sokongan mengalir bak air bah di facebook, twitter dan puluhan tokoh rela menjaminkan diri demi penangguhan penahanan.

Dan setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso menjelaskan kasus ini, sokongan untuk Bibit dan Chandra terus saja menguat.

Hari ini Abdurrahman Wahid datang ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kuningan, Jakarta Pusat. Mantan Presiden itu juga mau menjaminkan diri demi penangguhan penahanan Bibit dan Chandra.

Selasa pekan depan, Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang terbuka. Di situ akan diperdengarkan kaset rekaman pembicaraan sejumlah orang. Pembicaraan itu diduga berisi rencana untuk menjadikan Bibit dan Chandra sebagai tersangka.

Kalau rekaman itu benar-benar berisi rencana rekayasa itu dan dilakukan oleh aparat hukum, tentu saja kasus ini masih menyita perhatian publik.

Dan di tengah keriuhan itu, ada baiknya kita melihat kembali perjalanan kasus ini. Mengapa Bibit dan Chandra jadi tersangka. Siapa Anggoro Widjojo, Anggodo, Ary Mulyadi, dan Yulianto. Dan mengapa pula KPK melepas cekal Joko Soegiarto Chandra.

Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah dijadikan tersangka dengan tuduhan menyalagunakan wewenang. Penyalahgunaan wewenang itu dilakukan saat mencekal bos PT Masaro Radiokom, Anggoro Widjojo dan mencabut pencekalan atas mantan bos PT Era Giat Prima, Djoko Soegiarto Tjandra.

Anggoro Widjojo dicekal tanggal 22 Agustus 2008. KPK meminta Dirjen imigrasi mencekal si Anggoro ini dan tiga petinggi Masaro karena diduga terlibat kasus suap Tanjung Api-Api.

Dalam proses penelusuran kasus ini, para penyidik KPK menemukan bahwa Anggoro juga tersangkut kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan. Karena buktinya kuat, Anggoro dijadikan tersangka untuk kasus yang kedua itu.

Penyidik KPK lalu memburu Anggoro ini ke segala penjuru. Tapi hingga Bibit dan Chandra dikurung polisi, keberadaan Anggoro itu masih misterius. Jumat kemarin, adiknya yang bernama Anggodo mendadak muncul di Mabes Polri. Dia datang melaporkan Bibit dan Chandra yang sudah menginap ditahanan itu.

Lupakan dulu Anggoro, masih bicarakan soal Joko Soegiarto Chandra. Upaya KPK mencabut cekal atas Djoko Tjandra ini semula memang menimbulkan tanda Tanya dibenak banyak orang. Mengapa KPK begitu mudah mencabut pencekalan itu.

Sebelum menghakimi, dengarlah dulu kisah dari kubu Bibit dan Chandra ini. Kamis, 1 Oktober 2009, Ahmad Rifa’i, kuasa hukum keduanya, berkisah panjang lebar soal kasus Joko Tjandra itu.

Semula, kata Ahmad, Joko diduga mengalirkan uang ke Arthalyta Suryani. Ini nama yang kondang setahun lalu. Arthalyta --yang digambarkan oleh sejumlah media massa sebagai pelobi tingkat tinggi, pernikahan anaknya dihadiri pejabat kelas atas ---menyuap Jaksa Urip Tri Gunawan untuk menyelamatkan bosnya dari jeratan kasus Bantuan Likuditas Bank Indonesia (BLBI).

Dari berbagai penelusuran yang dilakukan , para penyidik KPK tidak menemukan bukti yang menguatkan adanya aliran dana ke Arthlyta itu. Lalu ke mana duit itu mengalir?.

Bersambung
(bagian II)

sumber : Vivanews


10 August 2009

Densus 88 Polri Sudah Miliki DNA Anak Noordin

Kuala Lumpur, (tvOne)
Dubes RI untuk Malaysia Da`i Bachtiar mengatakan, Densus 88 telah mengambil DNA anak Noordin M Top belum lama ini, sehingga Polri akan mudah mengidentifikasi apakah mayat teroris di Temanggung itu memang Noordin M Top atau bukan.


"Apa yang dinyatakan kepala polisi Malaysia Musa Hasan untuk membantu Polri dalam identifikasi mayat Noordin M Top adalah suatu bentuk kerja sama dan keakraban antara kepolisian Malaysia-Indonesia," katanya.


Da`i Bachtiat mengatakan hal itu ketika menyaksikan pertandingan sepak bola dalam rangka memperebutkan Dubes Cup, di Damansara, Selangor, Malaysia, Minggu sore.


Namun untuk identifikasi melalui DNA, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri sudah melakukannya dan belum lama ini mereka datang ke Malaysia untuk mengambil sampel DNA anak Noordin M Top.


Tapi upaya lain mungkin bisa ditempuh dengan cara mendatangkan keluarganya, apakah istri, anak atau saudara kandung ke Jakarta untuk memastikan lagi bahwa mayat itu memang Noordin M Top atau bukan, katanya.


Dengan tawaran kepolisian Malaysia, Polri bisa mengajukan agar keluarga Noordin M Top datang ke Jakarta untuk memastikan jenazah itu yang difasilitasi kepolisian Malaysia, kata mantan Kapolri itu.


"Atau kepolisian Malaysia punya sidik jari M Top itu juga bisa membantu dan dimanfaatkan tawaran kepolisian Malaysia," tambah Dubes.


Dubes Da`i mengatakan hal itu terkait dengan penawaran Kepala Polisi Malaysia Musa Hasan untuk membantu identifikasi mayat Noordin M Top. Menurut dia, tawaran itu harus dimanfaatkan oleh Polri.(ANT)

sumber: TV One

08 August 2009

Noordin Tak Menyerah Hingga Tewas


Temanggung, (tvOne)

Sekitar 17 jam Densus 88 mengepung rumah persembunyian Noordin M Top. Teroris kakap ini pun akhirnya tewas setelah dibombardir tembakan dan bom. Yang menarik, meski dalam kondisi terjepit, sampai akhir hayatnya warga Malaysia ini tidak bersedia menyerahkan diri.


Noordin memilih tewas di tempat pertahanan terakhirnya, kamar mandi rumah milik pensiunan guru, Mohzari, yang berlokasi di Desa Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Polisi memastikan murid kesayangan Dr Azahari ini tewas pada pukul 09.57 WIB.


Saat dikepung sejak pukul 16.00 WIB, Jumat 7 Agustus 2009 hingga pukul 07.00 WIB, Sabtu 8 Agustus 2009, Noordin yang seorang diri di rumah itu masih melakukan perlawanan. Dia masih bisa membalas serangan yang dilancarkan Densus.


Pukul 08.12 WIB, polisi masih memberikan peringatan kepada Noordin. "Kepada yang ada di dalam harap keluar dan menyerah," teriak petugas. Namun teriakan petugas tidak direspons Noordin. Meski tidak ada sahutan, polisi tetap waspada karean dikhawatirkan hal itu hanya tipu muslihat Noordin.


Polisi menduga Noordin membawa bom. Selama ini Noordin memang terbiasa mengenakan rompi yang berisi bahan peledak. Perhitungan polisi tepat, sekitar lima menit kemudian, pukul 08.17 WIB, dari arah kamar mandi terdengar rintihan kesakitan di dalam kamar mandi. Polisi kemudian memfokuskan perhatian pada bagian kamar mandi ini. Seluruh moncong senjata diarahkan ke titik ini.


Pukul 08.24 WIB, dari laporan tvOne, polisi kembali meminta Noordin menyerah, tapi tidak ada tanda-tanda gembong teroris ini akan menyerah. Berondongan kembali terjadi, hanya selang beberapa detik, peluru kembali dimuntahkan.


Tiga menit kemudian, petugas meminta orang yang berada di kamar mandi menyebutkan namanya. "Siapa yang ada di dalam," teriak petugas. Dari dalam terdengar pengakuan sahutan, "Noordin." Meski begitu Noordin juga tidak menyatakan menyerahkan diri.


Untuk melumpuhkan Noordin, polisi akhirnya menyiapkan bom berdaya ledak rendah yang kelima. Namun Noordin belum juga menyarah. Polisi kemudian memberondongkan tembakan. Pukul 09.37 WIB, polisi berhasil masuk ke dalam rumah dan kembali memuntahkan peluru. Saat itu sudah tidak terdengar suara dan perlawanan lagi, Noordin dipastikan tewas pukul 09.57 WIB.(VIVAnews.com).

sumber: TV One