Showing posts with label Hotel. Show all posts
Showing posts with label Hotel. Show all posts

06 September 2016

Wisata Jepang - Cara Hemat Bermalam di Tokyo

Seperti banyak kita ketahui bersama dan dalam pemahaman yang masih umum diyakini adalah bahwa untuk berwisata atau traveling ke luar negeri akan selalu membutuhkan biaya yang cukup besar terutama untuk biaya penginapan dan juga ticket pesawat kita. Begitu juga saat kita memiliki rencana traveling ke Jepang, khususnya saat di ibukota negara tersebut yaitu, Tokyo.

Sebuah kekhawatiran yang wajar, mengingat memang kabarnya kota Tokyo ini termasuk salah satu kota dengan biaya hidup yang mahal diantara kota-kota dunia lainnya. Hal ini juga termasuk kepada penginapan-penginapannya atau hotel-hotel yang bagus dan layak bagi para traveler dunia. 

Sebagai perbadingan dengan harga hotel atau rate per malamnya, jika di Jakarta kita bisa mengeluarkan biaya sekitar 400-600 ribu untuk sebuah kamar dengan single bed besar di hotel-hotel kelas budget, maka di kota Tokyo ini, jika kita tetap ingin merasakan dan menikmati kelas hotel-hotel budget di Jakarta, maka biaya yang akan kita keluarkan bisa menjadi dua kali lipatnya atau bahkan tiga kali lipatnya atau dikisaran harga 1 jutaan rupiah untuk per malamnya. Cukup mahal bukan?

Sementara rata-rata para traveler, khususnya dari Indonesia, mereka biasa bermalam di kota Tokyo minimal 2 malam hingga 4 malam, karena cukup banyak tempat dan lokasi yang dapat dikunjungi dikota ini, mulai dari taman kota, pusat perbelajaan, kuil-kuil dan berbagai icon menarik kota Tokyo lainnya, semuanya menarik untuk di datangi dan dirasakan suasananya, apalagi bagi orang yang pertama kali berkunjung ke Tokyo.

Lantas apakah kita akan tetap bisa berhemat untuk budget penginapan kita di kota Tokyo? Tentu saja masih bisa, karena masih banyak cara dan pilihan untuk menghemat budget penginapan kita tersebut. Saat ini sudah semakin mudah untuk merencanakan perjalanan traveling kita, termasuk dalam hal mencari penginapan yang hemat dan aman untuk budget traveling kita.

Diantara cara-cara yang ada untuk mencari penginapan ramah budget traveling kita adalah dengan memilih hotel budget dan hostel serta apartemen sewa yang bisa kita jadikan opsi penginapan kita selama traveling di kota Tokyo atau mungkin kota-kota lainnya di negeri Sakura ini. Semua opsi atau pilihan ini sudah bisa kita cari sejak kita masih berada di dalam negeri, caranya dengan melakukan pemesanan (booking) secara online.

Sudah banyak sekali website atau aplikasi mobile yang dapat membantu pencarian hotel dan penginapan kita untuk seluruh dunia, tentu juga untuk Jepang salah salah satunya. Berikut adalah web dan aplikasi mobile yang biasa saya gunakan untuk memesan hotel, diantara adalah www.airbnb.com dan www.hostelworld.com.

Airbnb adalah sebuah aplikasi berbasis web khusus untuk property-property pribadi yang disewakan kepada umum dalam hal ini para traveler. Yang dimaksud property-property pribadi disini adalah mulai dari unit apartemen, rumah, hingga kamar-kamar dalam sebuah rumah yang memang khusus didesain untuk disewakan kepada pihak lain melalui airbnb sebagai jasa untuk mempertemukan antara penyewa dan pemilik property tersebut.

Saat saya traveling ke Tokyo saya menggunakan pemesanan online melalui airbnb. Dan saya dapatkan harga termurah di angka 17 USD per malam, saya ambil untuk 2 malam, jadi saya bayar 34 USD atau sekitar 400 ribuan untuk harga menginap 2 malam di kota Tokyo. 


Lokasi Penginapan Shinjuku Happy House

Toilet di Shinjuku Happy House
Kemudian pasti timbul pertanyaan seperti apakah tempatnya? Karena saya tidak terlalu mementingkan kenyamanan yang tinggi untuk penginapan, maka saya merasa dengan harga yang saya bayar sudah cukup untuk fasilitas yang saya dapatkan. Fasilitas tersebut adalah sebuah rumah dengan satu kamar besar yang di isi dengan 8 dorm bed, sebuah kamar mandi dan sebuah toilet serta ada fasilitas mini kitchen dan juga ada free wifi. Cukup layak bagi saya untuk sekedar beristirahat dan bermalam di kota Tokyo.


05 August 2009

Messages and implications of the Jakarta bombings

Jakarta Bombing

Benny YP Siahaan , Geneva | Opinion


The recent bombings in Jakarta have effectively reaffirmed our fear that terrorists still exist and are capable of inflicting harm. Perhaps these are the main messages behind their atrocious acts.


By placing an improvised explosive device (IED) in a backpack and another in a small traveling suitcase, the bombers took nine lives and injured numerous others.


In this instance, when compared to the Bali bombings and other prior terrorist attacks in Indonesia, the casualties are fewer.


However it should be remembered that in many acts of terrorism the primary objective is to inflict psychological harm, which is often far greater than any actual physical damage. So what are the real long-term consequences for Indonesia?


Many analysts have suggested that in the short term, neither the economic nor political stability of Indonesia is likely to be threatened by the recent attacks.


The hotel chains hit in the attacks are often frequented by Western business people and seem to have become a favourite target for those wishing to commit acts of terrorism in Indonesia and worldwide.


The op-ed article written by Noor Huda Ismail and Carl Ungerer in The Australian (July 17), the same day as the terrorist bombing in Jakarta, is an important contribution to the issue at hand and needs further consideration. In particular, it suggested that Jamaah Islamiyah (JI) may still have the capability to relaunch an attack.


It is true that since the Bali bombings, the Indonesian government has successfully undermined JI and its factions by exposing its financial links from outside supporters, cutting its ability to purchase heavyweight explosive chemicals and devices. This pressure forced JI to operate under the radar and continue launching cheap attacks at the easiest targets with the maximum possible damage.


Such low cost and low level attacks will perhaps become JI's main method for future attacks, considering they are relatively inexpensive and straightforward to carry out.


What can be done in the face of this possibility?


The methodology and targets of terrorists have continued to change over the years, but targeting Western hotels and using smaller explosive devices seems to be a growing trend.


It recent years, the extent of the chaos caused or damage inflicted seems to be less important than the fact attacks are actually still occurring at all. The message of perpetual violence and their capability to cause suffering are more pertinent to terrorists than the magnitude of any one attack.


The attacks also raise the question of how to protect soft targets such as hotels. I use the term soft targets because places like Western embassies, for example, are becoming increasingly difficult to attack as security has been lifted to extreme levels.


Finding more advanced methods of security for protecting soft targets such as hotels will remain a key necessity. Indeed, merely increasing traditional security measures for particularly vulnerable targets will only induce terrorists to wait, perhaps even several years, until the target becomes less alert.


In the age of innumerable terrorist threats, the responsibility for security prevention no longer only resides with the authorities as they cannot be everywhere at the same time, especially given the abrupt and secretive nature of terrorism.


On par with this, the public also have the responsibility of not only ensuring their own personal security but also of becoming increasingly more alert about their surroundings. Nonetheless, such advanced security measures should not also make our lives more difficult or make us terribly paranoid.


The writer is an Indonesian diplomat based in Geneva. These are his personal views.

source: The Jakarta Post